Makalah Kelompok VII
KESEIMBANGAN
EKONOMI TIGA SEKTOR
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata
kuliah : Ekonomi Makro Islam
Dosen
: Enriko Tedja Sukmana, S.Th, M.SI
Disusun oleh
NANA TAURAN SIDIK
NIM. 1202120184
AKHMAD SYAHRIYANOR
NIM. 1202120186
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
JURUSAN SYARI’AH PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH KELAS A
TAHUN 1435 H / 2013 M
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Dalam tinjauan
analisis pendapatan nasional, terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi
ukurannya, yakni ekonomi dua sektor, tiga sektor dan empat sektor. Setelah
sebelumnya kita mengenal perekonomian dua sektor yang terdiri dari sirkulasi antara
rumah tangga dan perusahaan, sekarang kita akan mengenal jenis perekonomian
tiga sektor yang terdiri dari sirkulasi antara rumah tangga, perusahaan, dan
pemerintah. Analisis keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian tiga
sektor bertujuan untuk menunjukkan penetuan pendapatan nasional dalam
perekonomian di mana terdapat peran pemerintah yang akan menimbulkan dua
perubahan penting dalam proses penentuan pendapatan nasional tersebut.
Untuk
pembahasan lebih lanjut, maka penulis akan mengupas dengan tuntas mengenai
permasalahan yang berkaitan dengan judul terkait. Dalam penulisan ini, penulis
telah mencantumkan beberapa sumber yang menjadi referensi pemakalah untuk
membahas keseimbangan ekonomi tiga sektor meliputi pengertian ekonomi tiga
sektor, aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, jenis-jenis pajak, efek
pajak pada konsumsi dan tabungan, serta pemerintah sebagai pembeli dan investor
besar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan ekonomi tiga sektor?
2.
Bagaimana
aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, serta jenis-jenis pajak pada ekonomi
tiga sektor?
3.
Bagaimana
efek pajak pada konsumsi dan tabungan, serta peran pemerintah sebagai pembeli
dan investor besar?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
|
1
|
Agar mampu memahami definisi
dari ekonomi tiga sektor.
2.
Agar
mampu memahami aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, serta jenis-jenis
pajak pada ekonomi tiga sektor.
3.
Agar
mampu memahami efek pajak pada konsumsi dan tabungan, serta peran pemerintah
sebagai pembeli dan investor besar.
D.
Kegunaan
Penulisan
1.
Kegunaan
teoritis yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang Keseimbangan
ekonomi tiga sektor.
2.
Kegunaan
praktis yaitu menjadi khazanah keilmuan bagi mahasiswa yang mempelajari Ekonomi
Makro Islam.
E.
Metode
Penulisan
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan dalam
makalah ini adalah metode telaah kepustakaan, yang mana penulis menggunakan
buku-buku dari perpustakan sebagai bahan referensi dimana penulis mencari
literatur yang sesuai dengan materi yang di kupas dalam makalah ini dan penulis
menyimpulkannya dalam bentuk makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Ekonomi Tiga Sektor
Dalam ekonomi makro, kita
mengenal istilah ekonomi tiga sektor. Tiga sektor disini dimaksudkan sebagai
jenis perekonomian yang terjadi dalam sirkulasi rumah tangga, perusahaan, dan
pemerintah. Jadi, ekonomi tiga sektor adalah perekonomian yang terjadi pada
ruang lingkup rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Karena dalam kegiatan
perekonomian ini tidak terdpaat aktifitas ekspor dan impor, maka ekonomi tiga
sektor merupakan perekonomian tertutup. Dalam sirkulasi pendapatan negara,
ekonomi tiga sektor memiliki peranan yang amat penting. Sebab dalam
menganalisisnya kita harus memperhatikan peranan dan pengaruh pemerintah pada
kegiatan tersebut.[1]
Campur tangan pemerintah dalam
perekonomian menimbulkan dua perubahan penting dalam proses penentuan
keseimbangan pendapatan nasional, yaitu:[2]
1.
Pungutan pajak yang dilakukan pemerintah akan
mengurangi pengeluaran agregat melalui pengurangan pada konsumsi rumah tangga.
2.
Pajak memungkinkan pemerintah melakukan pembelanjaan
dan ini akan menaikkan pembelajaan-pembelanjaan agregat.
B.
Aliran
Pendapatan dan Syarat Keseimbangan
1.
Aliran
Pendapatan
|
3
|
|
Gaji dan upah,
sewa, bunga dan untung
|
|
Pajak Individu
|
|
Pajak
Perusahaan
|
|
PERUSAHAAN
|
|
PEMERINTAH
|
|
RUMAH TANGGA
|
|
Pengeluaran
pemerintah
|
|
Konsumsi rumah
tangga
|
|
Tabungan
|
|
LEMBAGA KEUANGAN
|
|
PENANAM MODAL
|
|
Pinjaman
|
Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa dalam
suatu perekonomian tertutup, ciri-ciri pokok dari aliran-aliran pendapatan dan
pengeluarannya adalah sebagai berikut.
a.
Pembayaran oleh sektor
perusahaan sekarang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pembayaran kepada
sektor rumah tangga sebagai pendapatan kepada faktor-faktor produksi, dan
pembayaran pajak pendapatan perusahaan kepada pemerintah.
b.
Pendapatan yang diterima rumah
tangga sekarang berasal dari dua sumber, yakni dari pembayaran gaji dan upah,
sewa, bunga, dan untung oleh perusahaan, dan dari pembayaran gaji dan upah oleh
pemerintah.
c.
Pemerintah menerima pendapatan
berupa pajak dari perusahaan dan rumah tangga. Pendapatan tersebut akan
digunakan untuk membayar gaji dan upah pegawai-pegawai dan untuk membeli
barang-barang dan jasa-jasa.
d.
Pendapatan yang diterima rumah
tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan, yaitu membayar dan
membiayai pengeluaran konsumsi (C), disimpan sebagai tabungan (S), dan membayar
pajak pendapatan rumah tangga (T). Sehingga di bentuklah persamaan : Y = C + S
+ T
e.
Dalam gambaran tersebut tetap
dimisalkan bahwa tabungan rumah tangga dipinjamkan oleh lembaga-lembaga
keuangan kepada para pengusaha yang menanam modal.
f.
Pengeluaran agregat (AE) telah
menjadi bertambah banyak jenisnya, yaitu disamping pengeluaran konsumsi (C) dan
investasi (I), sekarang termasuk pula pengeluaran pemerintah (G), yang mana
digambarkan dalam persamaan : AE = C + I + G.[4]
2.
Syarat
Keseimbangan
Dalam perekonomian yang tidak melakukan perdagangan luar negeri,
penawaran agregat adalah sama dengan pendapatan nasional (Y), yaitu sama dengan
nilai barang dan jasa yang diproduksikan dalam perekonomian dalam suatu periode
tertentu. Pengeluaran agregat tersebut meliputi tiga jenis pembelanjaan, yakni
konsumsi rumah tangga (C), investasi perusahaan (I), dan pengeluaran pemerintah
untuk membeli barang dan jasa (G). Dengan demikian keadaan yang menciptakan
keseimbangan dalam perekonomian tiga sektor adalah penawaran agregat =
pengeluaran agregat (Y = AE), atau Y = C + I + G.[5]
Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih
besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk
investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan
meminjam uang. Walaupu jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan
dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya
kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan
bunga. Investasi semacam ini biasanya dijadikan pembelanjaan atau pengeluaran
para penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan
perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi
barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.[6]
Selain itu, perlu diketahui bahwa pendapatan rumah tangga dalam diagram
sirkulasi ekonomi tiga sektor sebelumnya menunjukkan bahwa pendapatan rumah
tangga akan digunakan untuk tiga tujuan, yakni membiayai konsumsi (C), ditabung
(S), dan membayar pajak (T). Dengan demikian, jika ketiga tujuan itu kita
masukkan dalam perekonomian tiga sektor, maka berlaku persamaan: Y = C + S + T.[7]
Dari pemaparan tersebut, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa jika dalam
keseimbangan berlaku persamaan Y = C + I + G dan pada setiap tingkat pendapatan
nasional berlaku persamaan Y = C + S + T, dengan demikian maka pada
keseimbangan pendapatan nasional berlaku kesamaan C + I + G = C + S + T. Apabila
C dikurangi dari setiap ruas maka: I + G = S + T.
C. Jenis-Jenis
Pajak
1.
Pajak langsung dan pajak tak langsung
Secara garis besarnya berbagai
jenis pajak yang dipungut pemerintah dapat dibedakan kepada dua golongan, yaitu
pajak langsung dan pajak tak langsung.
a.
Pajak langsung
Pajak langsung berarti jenis
pungutan pemerintah yang secara langsung dikumpulan dari pihak yang wajib
membayar pajak.
b. Pajak tak langsung
Pajak tak langsung adalah pajak
yang bebannya dapat dipindahkan kepada pihak lain. Salah satu jenis pajak tak
langsung yang penting adalah pajak impor. Biasanya, pada akhirnya yang akan
menanggung pajak tersebut adalah para konsumen.[8]
2.
Bentuk-bentuk pajak pendapatan
a.
Pajak regresif
Sistem pajak yang persentasi
pungutan pajaknya menurun apabila pendapatan yang dikenakan pajak menjadi
bertambah tinggi.
b.
Pajak proporsional
Persentasi pungutan pajak yang
tetap besarnya pada berbagai tingkat pendapatan, yaitu dari pendapatan yang
sangat rendah kepada yang sangat tinggi.
c. Pajak progresif
Sistem pajak yang persentasinya
bertambah apabila pendapatan semakin meningkat.[9]
D.
Efek Pajak Pada
Konsumsi dan Tabungan
Dalam perekonomian dua sektor, pendapatan nasional adalah sama dengan
pendapatan disposebel. Sebagai akibat adanya pajak, dalam perekonomian tiga
sektor pendapatan disposebel telah menjadi lebih kecil dari pendapatan
nasional. Dalam perekonomian yang telah mengenakan pajak, perhubungan di antara
pendapatan disposebel dan pendapatan nasional dapat dinyatakan pada persamaan:
Yd = Y – T.[10]
Penurunan pendapatan disposebel akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah
tangga. Hal ini disebabkan karena pajak yang dibayarkannya mengurangi
kemampuannya untuk melakukan pengeluaran konsumsi dan menabung. Adapun pengaruh
dua bentuk pajak terhadap konsumsi dan tabungan rumah tangga, yakni,
(1)
pengaruh pajak tetap (yaitu jumlahnya sama pada berbagai tingkat pendapatan
nasional) terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan.
(2)
pengaruh pajak proporsional terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan.[11]
Untuk konsumsi rumah tangga (C) dihitung dengan
formula: C = a + bYd, sedangkan untuk tabungan rumah tangga (S)
dihitung dengan formula: S = -a + (1-b)Yd.
E. Pemerintah Sebagai Pembeli dan Investor Besar
Anggaran pembelanjaan
pemerintah pada zaman Rasulullah saw. tidak tercatat secara rinci. Namun dari
beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa anggaran pembelanjaan publik pada masa
itu kurang mendapat perhatian dibandingkan masa sekarang. Pada saat ini, anggaran
belanja publik telah banyak menjadi pembicaraan. Posisi pemerintah dalam alur
sirkulasi ekonomi makro terlihat dalam persamaan berikut:[12]
|
Y = C + S
(Yh + Yg) = (Ch + Sh) + (Cg + Sg)
S = I, Asumsi Keynesian.
(Yh + Yg) = (Ch + Ih) + (Cg + Ig)
(Yh + Yg) = Ch + (Ih + Ig) + Cg
Y = C + I + G
|
Y = Pendapatan Nasional
C = Konsumsi
I = Investasi
g = Government
h = Household
G = Pengeluaran Pemerintah.
Anggaran belanja publik ini
jelas tidak dapat terlepas dari klasifikasi belanja pemerintah itu sendiri.
Adapun berdasarkan jenisnya, belanja pemerintah dibedakan menjadi:
1.
Wasteful Spending, yakni kondisi dimana belanja
pemerintah memberikan manfaat yang lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang
dikeluarkan.
2.
Productive Spending, yakni apabila dari belanja
pemerintah memberikan manfaat yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
3.
Transfer Payment, yakni apabila jumlah manfaat yang
diterima dan biaya yang dikeluarkan sama besarnya.
Sedangkan menurut sifatnya, belanja
pemerintah terbagi atas:
1.
Temporary Spending, yakni pembiayaan yang hanya
dilakukan untuk satu kali waktu saja.
2.
Permanent Spending, yakni pembiayaan yang dilakukan
oleh pemerintah secara terus-menerus dalam periode tertentu.
Pemaparan tersebut memberi gambaran kepada kita
bahwasanya pemerintah berperan besar dalam ekonomi makro. Disamping sebagai
pembeli terbesar, pemerintah juga berperan besar sebagai investor dalam
pendapatan suatu negara. Tingkat pertumbuhan ekonomi, investasi, dan
infrastruktur juga ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Adapun pengaruh
lainnya terdapat pada tingkat pengeluaran agregat, kebijakan fiskal dan
permintaan agregat, dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari serangkaian penjelasan tentang qiyas dan ‘illat, maka kita dapat
menarik beberapa kesimpulan, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Ekonomi tiga sektor adalah
kegiatan perekonomian yang terjadi dalam sirkulasi antara rumah tangga, perusahaan
dan pemerintah.
2.
Adapun aliran pendapatan
ekonomi tiga sektor adalah pembayaran oleh sektor perusahaan, pendapatan yang
diterima rumah tangga berasal dari dua sumber, pemerintah menerima pendapatan
berupa pajak dari perusahaan dan rumah tangga, pendapatan yang diterima rumah
tangga digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan, tabungan rumah tangga
dipinjamkan oleh lembaga-lembaga keuangan, Pengeluaran agregat menjadi
bertambah banyak jenisnya. Keadaan yang menciptakan keseimbangan dalam
perekonomian tiga sektor adalah penawaran agregat = pengeluaran agregat (Y =
AE), atau Y = C + I + G.
Dalam ekonomi tiga sektor
dikenal ragam pajak, yakni pajak langsung dan pajak tak langsung, pajak regresif,
pajak proporsional serta pajak progresif.
3.
Adapun pengaruh dua bentuk pajak terhadap konsumsi dan
tabungan rumah tangga, yakni, pengaruh pajak tetap (yaitu jumlahnya sama pada berbagai
tingkat pendapatan nasional) terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan. Serta
pengaruh pajak proporsional terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan. Sedangkan
mengenai peran pemerintah sebagai pembeli dan investor besar dalam pendapat
nasional dapat kita lihat dari segi tingkat pertumbuhan ekonomi, investasi,
infrastruktur, kebijakan fiskal, dan lain sebagainya.
B. Saran
|
10
|
|
10
|
DAFTAR PUSTAKA
A. Telaah Kepustakaan
A. Karim, Adiwarman, Ekonomi
Makro Islami, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007.
Aziz, Abdul, Manajemen
Investasi Syari’ah, Bandung: Penerbit Alfabeta, 2010.
Sukirno, Sadono, Makroekonomi
Teori Pengantar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006.
B. Telusur Internet
Http://syariah99.blogspot.com/2013/05/ekonomi-makro-ekonomi-3-sektor.html, di akses pada tanggal 17 November 2013.
Http://www.emakalah.com/2013/01/keseimbangan-ekonomi-tiga-sektor.html, di akses pada tanggal 17 November 2013
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur penulis
ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga
makalah dengan judul “Keseimbangan Ekonomi Tiga Sektor” ini dapat di
selesaikan tepat pada waktunya, sebagai pemenuhan tugas Ekonomi Makro Islam.
Penulis sangat
menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi
penulisan, susunan kata, maupun isi materi. Dengan ini penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini, serta
sebagai jembatan ilmu yang berujung pada intelektualitas. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
|
Palangka
Raya, 20 November 2013
Tim Penulis
|
|
i
|
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................... 1
D. Kegunaan Penulisan................................................................................ 2
E.
Metode
Penulisan.................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ekonomi Tiga Sektor ............................................................ 3
B. Aliran Pendapatan dan Syarat Keseimbangan ....................................... 3
C. Jenis-Jenis Pajak ..................................................................................... 6
D. Efek Pajak Pada Konsumsi dan Tabungan ............................................ 7
E.
Pemerintah
Sebagai Pembeli dan Investor Besar ................................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................
10
B. Kritik dan Saran...............................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
|
ii
|
[1] Http://syariah99.blogspot.com/2013/05/ekonomi-makro-ekonomi-3-sektor.html, di
akses pada tanggal 17 November 2013.
[3]
Sadono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar,
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006, hal.151.
[8] Http://www.emakalah.com/2013/01/keseimbangan-ekonomi-tiga-sektor.html, di
akses pada tanggal 17 November 2013.
[12]
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami,
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007, hal. 271-272.


0 komentar:
Posting Komentar