Senin, 09 Desember 2013

Makalah Ekonomi Makro Islam



Makalah Kelompok VII

KESEIMBANGAN EKONOMI TIGA SEKTOR

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah : Ekonomi Makro Islam
Dosen : Enriko Tedja Sukmana, S.Th, M.SI








Disusun oleh

NANA TAURAN SIDIK
NIM. 1202120184

AKHMAD SYAHRIYANOR
NIM. 1202120186











SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
JURUSAN SYARI’AH PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH KELAS A
TAHUN 1435 H / 2013 M
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam tinjauan analisis pendapatan nasional, terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi ukurannya, yakni ekonomi dua sektor, tiga sektor dan empat sektor. Setelah sebelumnya kita mengenal perekonomian dua sektor yang terdiri dari sirkulasi antara rumah tangga dan perusahaan, sekarang kita akan mengenal jenis perekonomian tiga sektor yang terdiri dari sirkulasi antara rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Analisis keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor bertujuan untuk menunjukkan penetuan pendapatan nasional dalam perekonomian di mana terdapat peran pemerintah yang akan menimbulkan dua perubahan penting dalam proses penentuan pendapatan nasional tersebut.
Untuk pembahasan lebih lanjut, maka penulis akan mengupas dengan tuntas mengenai permasalahan yang berkaitan dengan judul terkait. Dalam penulisan ini, penulis telah mencantumkan beberapa sumber yang menjadi referensi pemakalah untuk membahas keseimbangan ekonomi tiga sektor meliputi pengertian ekonomi tiga sektor, aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, jenis-jenis pajak, efek pajak pada konsumsi dan tabungan, serta pemerintah sebagai pembeli dan investor besar.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ekonomi tiga sektor?
2.      Bagaimana aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, serta jenis-jenis pajak pada ekonomi tiga sektor?
3.      Bagaimana efek pajak pada konsumsi dan tabungan, serta peran pemerintah sebagai pembeli dan investor besar?

C.    Tujuan Penulisan
1.     
1
Agar mampu memahami definisi dari ekonomi tiga sektor.
2.      Agar mampu memahami aliran pendapatan dan syarat keseimbangan, serta jenis-jenis pajak pada ekonomi tiga sektor.
3.      Agar mampu memahami efek pajak pada konsumsi dan tabungan, serta peran pemerintah sebagai pembeli dan investor besar.

D.    Kegunaan Penulisan
1.      Kegunaan teoritis yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang Keseimbangan ekonomi tiga sektor.
2.      Kegunaan praktis yaitu menjadi khazanah keilmuan bagi mahasiswa yang mempelajari Ekonomi Makro Islam.

E.     Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah metode telaah kepustakaan, yang mana penulis menggunakan buku-buku dari perpustakan sebagai bahan referensi dimana penulis mencari literatur yang sesuai dengan materi yang di kupas dalam makalah ini dan penulis menyimpulkannya dalam bentuk makalah.














BAB II
             PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ekonomi Tiga Sektor
Dalam ekonomi makro, kita mengenal istilah ekonomi tiga sektor. Tiga sektor disini dimaksudkan sebagai jenis perekonomian yang terjadi dalam sirkulasi rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Jadi, ekonomi tiga sektor adalah perekonomian yang terjadi pada ruang lingkup rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Karena dalam kegiatan perekonomian ini tidak terdpaat aktifitas ekspor dan impor, maka ekonomi tiga sektor merupakan perekonomian tertutup. Dalam sirkulasi pendapatan negara, ekonomi tiga sektor memiliki peranan yang amat penting. Sebab dalam menganalisisnya kita harus memperhatikan peranan dan pengaruh pemerintah pada kegiatan tersebut.[1]
Campur tangan pemerintah dalam perekonomian menimbulkan dua perubahan penting dalam proses penentuan keseimbangan pendapatan nasional, yaitu:[2]
1.    Pungutan pajak yang dilakukan pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat melalui pengurangan pada konsumsi rumah tangga.
2.    Pajak memungkinkan pemerintah melakukan pembelanjaan dan ini akan menaikkan pembelajaan-pembelanjaan agregat.

B.     Aliran Pendapatan dan Syarat Keseimbangan
1.    Aliran Pendapatan
3
Campur tangan pemerintah dalam perekonomian akan menimbulkan tiga jenis aliran baru dalam sirkulasi aliran pendapatan, yakni (1) pembayaran pajak oleh rumah tangga dan perusahaan kepada pemerintah. Pembayaran pajak tersebut menimbulkan pendapatan kepada pihak pemerintah, yang mana pajak inilah yang menjadi pendapatan utama pemerintah. (2) pengeluaran dari sektor pemerintah ke sektor perusahaan. Aliran ini menggambarkan nilai pengeluaran pemerintah terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan oleh sektor perusahaan. (3) aliran pendapatan dari sektor pemerintah ke sektor rumah tangga. Aliran ini muncul sebagai akibat dari pembayaran terhadap konsumsi faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh pemerintah.[3] Dengan ketiga corak aliran ini, maka aliran pendapatan dalam perekonomian tertutup dapat digambarkan sebagai berikut.
Gaji dan upah, sewa, bunga dan untung
Pajak Individu
Pajak Perusahaan
PERUSAHAAN
PEMERINTAH
RUMAH TANGGA
 



Pengeluaran pemerintah
Konsumsi rumah tangga
 Tabungan
LEMBAGA KEUANGAN
PENANAM MODAL
 
Pinjaman



Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa dalam suatu perekonomian tertutup, ciri-ciri pokok dari aliran-aliran pendapatan dan pengeluarannya adalah sebagai berikut.
a.       Pembayaran oleh sektor perusahaan sekarang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pembayaran kepada sektor rumah tangga sebagai pendapatan kepada faktor-faktor produksi, dan pembayaran pajak pendapatan perusahaan kepada pemerintah.
b.      Pendapatan yang diterima rumah tangga sekarang berasal dari dua sumber, yakni dari pembayaran gaji dan upah, sewa, bunga, dan untung oleh perusahaan, dan dari pembayaran gaji dan upah oleh pemerintah.
c.       Pemerintah menerima pendapatan berupa pajak dari perusahaan dan rumah tangga. Pendapatan tersebut akan digunakan untuk membayar gaji dan upah pegawai-pegawai dan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa.
d.      Pendapatan yang diterima rumah tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan, yaitu membayar dan membiayai pengeluaran konsumsi (C), disimpan sebagai tabungan (S), dan membayar pajak pendapatan rumah tangga (T). Sehingga di bentuklah persamaan : Y = C + S + T
e.       Dalam gambaran tersebut tetap dimisalkan bahwa tabungan rumah tangga dipinjamkan oleh lembaga-lembaga keuangan kepada para pengusaha yang menanam modal.
f.       Pengeluaran agregat (AE) telah menjadi bertambah banyak jenisnya, yaitu disamping pengeluaran konsumsi (C) dan investasi (I), sekarang termasuk pula pengeluaran pemerintah (G), yang mana digambarkan dalam persamaan : AE = C + I + G.[4]
2.    Syarat Keseimbangan
Dalam perekonomian yang tidak melakukan perdagangan luar negeri, penawaran agregat adalah sama dengan pendapatan nasional (Y), yaitu sama dengan nilai barang dan jasa yang diproduksikan dalam perekonomian dalam suatu periode tertentu. Pengeluaran agregat tersebut meliputi tiga jenis pembelanjaan, yakni konsumsi rumah tangga (C), investasi perusahaan (I), dan pengeluaran pemerintah untuk membeli barang dan jasa (G). Dengan demikian keadaan yang menciptakan keseimbangan dalam perekonomian tiga sektor adalah penawaran agregat = pengeluaran agregat (Y = AE), atau Y = C + I + G.[5]
Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupu jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga. Investasi semacam ini biasanya dijadikan pembelanjaan atau pengeluaran para penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.[6]
Selain itu, perlu diketahui bahwa pendapatan rumah tangga dalam diagram sirkulasi ekonomi tiga sektor sebelumnya menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga akan digunakan untuk tiga tujuan, yakni membiayai konsumsi (C), ditabung (S), dan membayar pajak (T). Dengan demikian, jika ketiga tujuan itu kita masukkan dalam perekonomian tiga sektor, maka berlaku persamaan: Y = C + S + T.[7]
Dari pemaparan tersebut, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa jika dalam keseimbangan berlaku persamaan Y = C + I + G dan pada setiap tingkat pendapatan nasional berlaku persamaan Y = C + S + T, dengan demikian maka pada keseimbangan pendapatan nasional berlaku kesamaan C + I + G = C + S + T. Apabila C dikurangi dari setiap ruas maka: I + G = S + T.

C.  Jenis-Jenis Pajak
1.    Pajak langsung dan pajak tak langsung
Secara garis besarnya berbagai jenis pajak yang dipungut pemerintah dapat dibedakan kepada dua golongan, yaitu pajak langsung dan pajak tak langsung.
a.    Pajak langsung
Pajak langsung berarti jenis pungutan pemerintah yang secara langsung dikumpulan dari pihak yang wajib membayar pajak.
b.    Pajak tak langsung
Pajak tak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dipindahkan kepada pihak lain. Salah satu jenis pajak tak langsung yang penting adalah pajak impor. Biasanya, pada akhirnya yang akan menanggung pajak tersebut adalah para konsumen.[8]
2.    Bentuk-bentuk pajak pendapatan
a.    Pajak regresif
Sistem pajak yang persentasi pungutan pajaknya menurun apabila pendapatan yang dikenakan pajak menjadi bertambah tinggi.
b.    Pajak proporsional
Persentasi pungutan pajak yang tetap besarnya pada berbagai tingkat pendapatan, yaitu dari pendapatan yang sangat rendah kepada yang sangat tinggi.
c.    Pajak progresif
Sistem pajak yang persentasinya bertambah apabila pendapatan semakin meningkat.[9]

D.    Efek Pajak Pada Konsumsi dan Tabungan
Dalam perekonomian dua sektor, pendapatan nasional adalah sama dengan pendapatan disposebel. Sebagai akibat adanya pajak, dalam perekonomian tiga sektor pendapatan disposebel telah menjadi lebih kecil dari pendapatan nasional. Dalam perekonomian yang telah mengenakan pajak, perhubungan di antara pendapatan disposebel dan pendapatan nasional dapat dinyatakan pada persamaan: Yd = Y – T.[10]
Penurunan pendapatan disposebel akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena pajak yang dibayarkannya mengurangi kemampuannya untuk melakukan pengeluaran konsumsi dan menabung. Adapun pengaruh dua bentuk pajak terhadap konsumsi dan tabungan rumah tangga, yakni,
(1) pengaruh pajak tetap (yaitu jumlahnya sama pada berbagai tingkat pendapatan nasional) terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan.
(2) pengaruh pajak proporsional terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan.[11]
Untuk konsumsi rumah tangga (C) dihitung dengan formula: C = a + bYd, sedangkan untuk tabungan rumah tangga (S) dihitung dengan formula: S = -a + (1-b)Yd.
E.  Pemerintah Sebagai Pembeli dan Investor Besar
Anggaran pembelanjaan pemerintah pada zaman Rasulullah saw. tidak tercatat secara rinci. Namun dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa anggaran pembelanjaan publik pada masa itu kurang mendapat perhatian dibandingkan masa sekarang. Pada saat ini, anggaran belanja publik telah banyak menjadi pembicaraan. Posisi pemerintah dalam alur sirkulasi ekonomi makro terlihat dalam persamaan berikut:[12]
Y = C + S
(Yh + Yg) = (Ch + Sh) + (Cg + Sg)
S = I, Asumsi Keynesian.
(Yh + Yg) = (Ch + Ih) + (Cg + Ig)
(Yh + Yg) = Ch + (Ih + Ig) + Cg
Y = C + I + G





Y = Pendapatan Nasional
C = Konsumsi
I = Investasi
g = Government
h = Household
G = Pengeluaran Pemerintah.

Anggaran belanja publik ini jelas tidak dapat terlepas dari klasifikasi belanja pemerintah itu sendiri. Adapun berdasarkan jenisnya, belanja pemerintah dibedakan menjadi:
1.    Wasteful Spending, yakni kondisi dimana belanja pemerintah memberikan manfaat yang lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
2.    Productive Spending, yakni apabila dari belanja pemerintah memberikan manfaat yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
3.    Transfer Payment, yakni apabila jumlah manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan sama besarnya.
Sedangkan menurut sifatnya, belanja pemerintah terbagi atas:
1.    Temporary Spending, yakni pembiayaan yang hanya dilakukan untuk satu kali waktu saja.
2.    Permanent Spending, yakni pembiayaan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus-menerus dalam periode tertentu.
Pemaparan tersebut memberi gambaran kepada kita bahwasanya pemerintah berperan besar dalam ekonomi makro. Disamping sebagai pembeli terbesar, pemerintah juga berperan besar sebagai investor dalam pendapatan suatu negara. Tingkat pertumbuhan ekonomi, investasi, dan infrastruktur juga ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Adapun pengaruh lainnya terdapat pada tingkat pengeluaran agregat, kebijakan fiskal dan permintaan agregat, dan lain sebagainya.











BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari serangkaian penjelasan tentang qiyas dan ‘illat, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.    Ekonomi tiga sektor adalah kegiatan perekonomian yang terjadi dalam sirkulasi antara rumah tangga, perusahaan dan pemerintah.
2.    Adapun aliran pendapatan ekonomi tiga sektor adalah pembayaran oleh sektor perusahaan, pendapatan yang diterima rumah tangga berasal dari dua sumber, pemerintah menerima pendapatan berupa pajak dari perusahaan dan rumah tangga, pendapatan yang diterima rumah tangga digunakan untuk memenuhi tiga kebutuhan, tabungan rumah tangga dipinjamkan oleh lembaga-lembaga keuangan, Pengeluaran agregat menjadi bertambah banyak jenisnya. Keadaan yang menciptakan keseimbangan dalam perekonomian tiga sektor adalah penawaran agregat = pengeluaran agregat (Y = AE), atau Y = C + I + G.
Dalam ekonomi tiga sektor dikenal ragam pajak, yakni pajak langsung dan pajak tak langsung, pajak regresif, pajak proporsional serta pajak progresif.
3.    Adapun pengaruh dua bentuk pajak terhadap konsumsi dan tabungan rumah tangga, yakni, pengaruh pajak tetap (yaitu jumlahnya sama pada berbagai tingkat pendapatan nasional) terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan. Serta pengaruh pajak proporsional terhadap pengeluaran konsumsi dan tabungan. Sedangkan mengenai peran pemerintah sebagai pembeli dan investor besar dalam pendapat nasional dapat kita lihat dari segi tingkat pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur, kebijakan fiskal, dan lain sebagainya.

B.  Saran
10
Cukup sekian apa yang dapat kami sajikan kiranya ada kekurangan mohon kritik dan sarannya dalam bentuk diskusi yang kemudian dapat kami jadikan sebagai rujukan pelengkap dalam makalah revisi yang akan dibuat kemudian jika diperlukan.
10

DAFTAR PUSTAKA
A.  Telaah Kepustakaan
A. Karim, Adiwarman, Ekonomi Makro Islami, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007.

Aziz, Abdul, Manajemen Investasi Syari’ah, Bandung: Penerbit Alfabeta, 2010.

Sukirno, Sadono, Makroekonomi Teori Pengantar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006.

B.  Telusur Internet






























KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga makalah dengan judul “Keseimbangan Ekonomi Tiga Sektor” ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, sebagai pemenuhan tugas Ekonomi Makro Islam.
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi penulisan, susunan kata, maupun isi materi. Dengan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini, serta sebagai jembatan ilmu yang berujung pada intelektualitas. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.






Palangka Raya, 20 November 2013


Tim Penulis


           
i


DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI     ........................................................................................................             ii

BAB I      PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah................................................................................... 1
C.  Tujuan Penulisan..................................................................................... 1
D.  Kegunaan Penulisan................................................................................ 2
E.   Metode Penulisan.................................................................................... 2

BAB II    PEMBAHASAN
A.  Pengertian Ekonomi Tiga Sektor ............................................................ 3
B.  Aliran Pendapatan dan Syarat Keseimbangan ....................................... 3
C.  Jenis-Jenis Pajak ..................................................................................... 6
D.  Efek Pajak Pada Konsumsi dan Tabungan ............................................ 7
E.   Pemerintah Sebagai Pembeli dan Investor Besar ................................... 8

BAB III   PENUTUP
A.  Kesimpulan......................................................................................     10
B.  Kritik dan Saran...............................................................................     10

DAFTAR PUSTAKA

ii
 


[2] Ibid.
[3] Sadono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006, hal.151.
[4] Ibid., hal. 152.
[5] Ibid., hal. 152-153.
[6] Abdul Aziz, Manajemen Investasi Syari’ah, Bandung: Penerbit Alfabeta, 2010, hal. 29-30.
[7] Sadono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar... hal. 153.
[9] Ibid.
[10] Sadono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar... hal. 155.
[11] Ibid., hal. 156.
[12] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007, hal. 271-272.

0 komentar:

 

Catatan Cerdas Mahasiswa Template by Ipietoon Cute Blog Design