AINARA
Oleh : Nanaa Rasnadianti Afifah
Senang
bisa kembali terbangun dalam balutan senyum mentari pagi ini, meskipun sinar
itu harus lebih banyak bersabar untuk menunda kehadirannya dibalik derasnya
hujan yang mengguyur kota metropolitan itu. Pemandangan yang sungguh tak asing,
dapat ku telisik lebih dekat seperti biasanya dari balik jendela apartemenku.
Jalan raya yang padat, menunjukkan bahwa aktifitas semua orang telah dimulai.
Pertanda juga bahwa aku telah menghabiskan waktu tidurku dengan sangat panjang
tadi malam, hingga harus bangun kesiangan. Beruntung kewajibanku untuk shalat
shubuh tertunda, lantaran harus selalu siap sedia menerima tamu bulanan.
Tubuhku
terasa sakit. Kepalaku masih terasa pusing. Sedikit yang dapat ku ingat dari scene cerita hidup yang ku jalani
kemarin. Hasil tensi dari dokter menunjukkan bahwa aku mengalami tekanan darah
rendah lagi. Kondisi ini selalu saja kembali menyapa saat selingkung aktifitas
padat harus ku jalani. Terlebih lagi jadwal deadline
yang diberikan oleh penerbit memang semakin dekat. Untuk akhir tahun kali ini,
aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk dipinang oleh salah satu penerbit
kondang yang bersedia menerima karyaku. Bayangan tentang penerbitan novel
dengan ketebalan yang lumayan telah tergambar di otakku. Jelas pula bahwa itu
akan menjadi resolusi yang sangat ku inginkan di tahun 2014.
Di
mataku masih sangat terasa kantuk itu. Ada saja keinginan untuk kembali
merebahkan diri, tetapi apa daya jika memang sosok ‘Agenda berjalan’ telah
masuk ke kamarku dan berjalan dengan memegang segelas air putih di tangan
kanannya.
“Setelah
dapat resep dokter tadi malam, langsung ku tebus obatnya di Apotik. Ini… di
minum dulu, supaya tekanan darah kamu kembali normal.” Jelas Iska seraya
menyodorkan segelas air putih dan beberapa pil obat itu padaku. Aku hanya
mengangguk kemudian meneguk pil tersebut diiringi regukan air putih itu. Iska
Handayani memang baru tiga tahun bersamaku, tetapi keberadaannya dalam hidupku
memberikan warna tersendiri yang hampir selaras dengan rasa yang ku dapatkan
ketika aku berada disekeliling keluarga besarku sendiri. Pasca kepergian
ayahku, aku jelas telah kehilangan sosok terhebat yang dulu selalu menjadi
pelipur lara akan sepak terjang kami dalam dunia takdir. Terlebih lagi saat
ibuku harus menjadi pendamping adikku dalam prosesnya menimba ilmu di Malaysia,
aku jelas harus mengahadapi hari-hariku sendirian di kota ini. Iska bukan
sekedar mengemban amanah yang ibu sampaikan padanya, tetapi semua yang ia
lakukan sangat terbaca jelas dalam polanya bertingkah padaku, bahwa ia tulus.
Sangat tulus, seperti apa yang ia lakukan sekarang padaku.
“Setelah
agak enakan, kamu istirahat aja lagi yah…”
“Memangnya
hari ini tidak ada agenda? Bukannya ada janji untuk ketemu sama editor?”
“Oh,
itu. Beliau membatalkan janji itu, Ra. Katanya itu diteruskan nanti saja,
setelah tour bedah novel kamu
selesai. Lagian beliau juga sudah tau kondisi kamu kemarin yang pingsan setelah
menghadiri acara bedah novel itu.” Jelas Iska sembari merebahkan tubuhku di
kasur kemudian menyelimutiku dengan selimut berwarna merah yang selalu ku bawa
kemana pun aku pergi. Wajahnya tampak lelah, tetapi tak ada sedikit pun gurat
muram yang ia perlihatkan padaku.
“Makasih,
Is. Kamu juga harus istirahat, karena perjalanan kita masih panjang. Oh iya, tour selanjutnya kita ke kota mana?”
Iska
tersenyum. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memunguti semua sampah
kertas yang ada di meja kerjaku kemudian memasukkannya ke kantong plastik kecil
yang ia dapat dari laci. setelah selesai, ia berjalan mendekati tempat tidurku
dan mengambil gelas bekas air putih tadi.
“Istirahat
lah. Bersiap untuk menyapa kota Palangkaraya besok.” Seakan tak memberikanku
kesempatan untuk bertanya lebih jauh, Iska langsung berjalan keluar dari
kamarku. Aku pun terdiam. Sesekali menghela nafas tak seirama dengan dentang
detik pernafasan normal. Aku berusaha memejamkan mataku, tetapi usaha itu
gagal. Rencana untuk beristirahat pun terusik. Otakku dipenuhi dengan semua
angan tentang kota itu, seakan jiwaku telah berada jauh disana sementara aku
tau raga ini masih kokoh berdiri disini.
Iska
tau bahwa aku pasti terhenyak jika mendengar nama kota itu. Sebuah kota yang
menjadi perkembanganku dalam menuntut ilmu. Kota yang menyimpan beribu ingatan
dan berjuta kenangan indah. Kota yang menjadi saksi jatuh bangunnya kehidupanku
pada masa lalu. Tak ada tanda harapan kala itu, bahkan untuk membangkitkannya
pun sungguh tak mudah. Sangat sulit untuk lepas dari keterjebakanku pada
lembaran hidup terdahulu. Kisah sepi di peraduan senja itu selalu menjadi
ukiran pilu, selalu berhasil menyentuh sisi penyesalan di sudut hatiku. Lima
tahun berlalu sejak kepergianku dari kota Palangkaraya. Sebuah kota cantik yang
selalu berusaha menjaga keindahannya dari peradaban kumuh. Walau tak seluas
kota Jakarta, kota itu selalu dapat memberikan kenyamanan yang luar biasa kala
berada disana.
Mematah
bayang tentang kota itu, aku pun menyeka air mata yang menetes. Aku menangis.
Sungguh tak seharusnya ku lakukan hal demikian, sebab harusnya aku telah
berhasil melupakan semuanya. Semua kenangan buruk yang berada diantara indahnya
ingatan tentang kejadian-kejadian menyenangkan saat berada di kota itu.
“Allah yang Maha cinta, teguhkan hatiku.
Selaraskan ingatanku. Kembalikan jika memang itu yang harusnya ku hadapi dan
hilangkanlah jika memang itu yang tak seharusnya ku sesali. Aku sungguh tak
bisa berdusta, hati ini masih mencinta…cinta yang terpelihara dengan benci
diantaranya. Jangan guratkan api dalam hatiku, Rabb…berikan penyejuk
diantaranya, walau cepat atau lambat aku harus kembali. Kembali bersua
dengannya, walau bukan atas nama cinta.” Rintihku dalam hati. Air mata yang
ku seka kian terasa deras mengalir, membasahi pipi dan bantal yang ku rebahi.
Sejenak menenangkan hati, aku menarik selimut itu agar menutupi semua bagian
tubuhku, termasuk kepala. Aku pun terlelap dalam kondisi badan yang kurang
stabil dan keadaan hati yang tak bersahabat.
***
“Aira!”
teriak seorang gadis memanggilku dari kejauhan. Terlihat dia berlari
menghampiriku dengan selembar amplop berada ditangan kanannya. Bianka,
begitulah nama panggilannya disebuah organisasi kampus yang bergerak pada
bidang jurnalistik. Posisinya sebagai koordinator bidang redaksi didalamnya,
bisa menjadi salah satu alasan kuat kenapa dia harus mencariku sepagi ini. Aku
dengannya jelas terlibat dalam situasi yang selalu sama. Bisa dibilang sebagai
aktifitas yang harus ada antara penerbit dan penulisnya. Ku pikir, bisa jadi
aku mendapatkan honor yang lumayan dari hasil tulisanku yang telah mereka
terbitkan pada majalah dinding kampus bulan ini. Setidaknya bisa ku gunakan
untuk membeli baju baru yang kemarin ku lihat terpajang pada patung di toko
depan kampus. “Ini…ada sepucuk surat buat kamu yang masuk ke redaksi kami. Ku
pikir ini adalah surat dari penggemar untuk idolanya, jadi ini bukan hak kami
untuk membacanya. Nih…”
Anganku
tentang rencana membeli baju baru pun pupus, seiring dengan beradanya sepucuk
amplop ditanganku yang ternyata isinya bukan lembaran uang seperti yang ku
impikan. Aku terdiam, menatap amplop putih itu. Sejumlah pertanyaan berlalu
lalang didepan pintu hatiku, seakan mengetuk satu persatu untuk meminta
jawaban. Seraya meneruskan langkahku yang tertunda untuk menuju ruang kelas,
aku pun membuka dan membaca isi dari surat itu. Tepat! Bianka benar, ini surat
dari penggemarku. Tetapi siapa? Tak ada satu pun tanda pengenal yang
menunjukkan identitas didalamnya. Hanya goresan pena bertinta biru yang memang
dapat dikenali bahwa itu seperti tulisan tangan seorang lelaki. Ada satu hal
yang membuat alisku mengerut. Diakhir tulisan itu termuat sebuah gambar kecil
seukuran huruf yang lain. Sebuah permen berbentuk hati yang dihiasi dengan
pita. Tentu saja ini sangat membuatku bingung.
“Dari
pada menggambar itu, alangkah lebih baiknya dia menuliskan namanya… Atau kalau
memang pengen menggambar, sekalian aja gambar mukanya. Biar aku tau. Huh!”
Gerutuku dengan nada suara yang pelan, sekedar untuk berbicara dengan diriku
sendiri. Aku pun duduk pada posisi kursi seperti biasa dan kembali mengikuti
perkuliahan seperti biasa pula. Hatiku sedikit menegur untuk bisa mengendalikan
otak agar bisa berkonsentrasi, tapi nyatanya kehadiran surat itu sungguh
menggangguku. Sebab tak hanya sekali ini ku dapatkan surat seperti itu, setelah
sebelumnya ku terima dengan beberapa cara yang berbeda. Ada yang diselipkan
pada daun pintu rumahku. Ada pula yang ku temukan langsung berada diantara
kamus Ekonomi yang selalu ku bawa kemana pun aku pergi. Mengherankan, tetapi
apa dayaku? Hingga saat ini aku hanya bisa bertanya tanpa bisa menjawab.
Selepas
jam perkuliahan berakhir, aku pun berniat untuk menuju perpustakaan megah yang
berdiri sebagai icon kampusku. Ada
beberapa referensi buku yang harus ku cari sebagai penunjang tugas kuliahku.
Berdiri diantara rak-rak buku sudah menjadi rutinitas yang tidak lepas dari
kegiatan mahasiswi sepertiku, tetapi tidak rasanya untuk hari itu. Ada seorang
lelaki yang berdiri tepat di rak sebelah, bersebelahan dengan rak tempatku
berdiri. Posisi kami yang saling berhadapan, memungkinkan kami untuk saling
menatap diantara susunan buku-buku yang begitu rapat. Saling memandang, walau
hanya terhitung tiga detik. Naratama Asra, itulah nama lengkapnya. Walau kerap
sering dipanggil Asra, ia lebih suka dipanggil Nara. Sebuah panggilan yang juga
berlaku untukku ketika menyapanya.
“Nara,
maaf tadi malam SMS-mu gak sempat ku balas. Keburu tidur duluan…” Ucapku seraya
membolak-balik halaman buku yang ku cari, dengan masih berdiri diantara rak
itu.
“Gak
apa-apa. Kamu juga pasti lelah karena harus belajar untuk ujian, ya kan?” Tanyanya
sekaligus menjawab permintaan maafku. Aku pun memandangnya dan mengangguk samar
seraya tersenyum. Pandangan itu pun ku akhiri dengan beranjak pergi
meninggalkannya, untuk kemudian duduk pada salah satu kursi yang tersedia di
ruangan itu. Tak banyak yang dapat kami lakukan ketika bertemu selain melakukan
hal demikian. Menatap pun kami sama-sama tidak berani terlalu lama, sebab bagi
kami batas-batas agama harus tetap dijaga sebagai jarak antara laki-laki dan
perempuan yang bukan mahram.
Nara
adalah sosok lelaki yang mungkin menjadi idola setiap perempuan yang
melihatnya. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan wajah tampan yang didukung
oleh hidungnya yang mancung layaknya keturunan Arab, perempuan mana pun jelas
menyukainya. Tak terkecuali aku. Tetapi dengan wajah yang tidak terlalu cantik
dan hidung yang ukurannya bisa dibilang pas-pasan, aku jelas awalnya tidak
berharap bisa berada dekat dengannya. Sangat tidak berpikir atau bahkan
terlintas niat untuk saling mengenal satu sama lain dengannya. Hanya karena
satu pertanyaanku tentangnya pada seorang perempuan bernama Riris, tak ku
sangka itu menjadi awal yang tak terduga. “Itu
ya yang namanya Nara?” Begitulah pertanyaan kecilku saat itu. Niatku waktu
itu hanya sekedar ingin tau wajah dari seseorang yang menjadi teman baruku di
jejaring sosial Facebook. Terlebih
lagi dia juga mengaku sebagai mahasiswa dari kampus yang sama denganku.
Berangkat
dari rasa penasaranku itulah, akhirnya pertanyaan kecil tanpa sengaja itu
tersampaikan padanya. Dengan diiringi pujian-pujian tentang dirinya yang
katanya ‘aku’-lah yang mengatakan itu, Nara pun meminta digit dari nomor
ponselku. Sebuah kondisi yang sama sekali tidak terlintas dipikiranku itu pun
seketika membuat jantungku berdegup kencang. Sebenarnya tak ada alasan bagiku
untuk tidak berkata terimakasih pada Riris, tetapi melihat dari kondisi fisik
kami yang saling berseberangan, aku pun mengerti bahwa mungkin Nara hanya
sekedar berniat memberikanku sinyal hijau sebagai tanda jalan, sedangkan ketika
aku terhasut untuk berjalan…maka akan mendadak warna itu berubah menjadi merah.
Wow! Itu bayangan yang sungguh mengerikan.
Sangat
sulit membuka hati untuk cinta yang baru, pasca diriku jatuh cinta pada sahabat
yang ku kenal tiga tahun silam. Reza Arsyad namanya. Selama masa tiga tahun itu
pula, cinta itu tetap tegak dengan kokoh memegang gelar ‘tak terbalas’ hingga
kini. Intensitas pertemuanku dengannya yang mulai berkurang setelah sama-sama
duduk di bangku kuliah ini, aku pun mulai sedikit bisa mengurangi aktifitas
otakku untuk memikirkannya. Terlebih lagi setumpuk tugas kuliah yang ku pikir
jauh lebih penting untuk segera diselesaikan itu menghadang didepan mataku.
Rasanya taka da celah bagiku untuk berkutat pada pemikiran-pemikiran tentang
hal yang bisa jadi menyita waktuku untuk belajar.
Kehadiran
Nara menjadi warna baru dalam kehidupanku. Semenjak masa perkenalan itu, aku
tau bahwa mungkin langkah selanjutnya yang dilakukan olehnya adalah menghubungi
nomor ponselku. Tepat! Seminggu setelah ia dapatkan 12 digit nomor ponselku
itu, ia pun menelepon. Suatu keadaan yang jelas membuatku berpikir dua kali
untuk menerima panggilannya pada ponselku, karena sebelumnya aku tak pernah
melakukan ini dan memang belum pernah seperti ini. Saat itu sungguh tenang
hatiku mendengar suaranya dikejauhan sana. Suara dengan tingkat nada yang
memang dibilang lembut, sangat lembut. Aku mungkin beruntung dapat merasakan
ini, sebuah kesempatan berbicara dengan orang yang memang ku kagumi.
Seorang
alumni Pesantren Al-Falah, berkarakter pendiam misterius, belum pernah pacaran
sekali pun dan berdomisili asli kota Palangkaraya, begitulah informasi yang ku
dapat dari beberapa sumber akurat yang berkaitan tentangnya. Tak ada riwayat play boy seperti yang ku takutkan,
itulah yang membuatku yakin untuk mulai sedikit mengenalnya walau hanya sebatas
teman. Perjalanan panjang saling mengenal satu sama lain pun kami lewati.
Bersenda gurau walau hanya melalui pesan singkat dan telepon. Selama masa
pendekatan itu pula kami sama-sama saling menjaga batas. Menjaga niat agar tak
masuk ke dalam suatu tanda bahwa ada setan yang berada diantaranya. Nara pernah
mengajakku untuk jalan-jalan, sekedar mengitari indahnya kota cantik
Palangkaraya, dan pada saat itu pula ia nyatakan cintanya padaku. Berdebatan
pun terjadi antara kami, bukan tentang caranya menyatakan cinta, tetapi tentang
bagaimana kami harusnya dapat menjalani ini semua dengan wajar. Posisi sebagai
anak muda yang labil, membuat kami harus saling mengikat dengan hubungan yang
tak dianjurkan dalam agama. Nara tau hukumnya tentang itu, tetapi ia diam
dengan keyakinan bahwa diantara kami takkan terjadi apa pun. Tepat! Memang tak
terjadi apa pun. Bisa jadi jalan-jalan kala itu adalah yang pertama dan yang
terakhir kalinya bagi kami berdua. Komunikasi yang terjadi antara kami hanyalah
sebatas SMS dan telepon, itu pun kalau kami sama-sama tidak sibuk. Rutinitas
seperti ini memang membosankan, tetapi bukan berarti aku tak terima. Justru
akan lebih baik begitu, mengingat bahwa dia adalah alumni sebuah pesantren dan
aku sendiri sebagai seorang alumni sekolah berlatar belakang agama pula.
Konsep
berpacaran yang kadang disalah artikan oleh beberapa pihak, membuat kami berdua
enggan terlalu bercerita tentang itu. Kadang mereka yang mengetahui hal ini
akan berpikir bahwa yang kami jalani sama seperti yang dijalani oleh kebanyakan
anak muda lainnya. Satu hal yang harus mereka pahami, pada dasarnya dalam agama
tak ada anjuran untuk berpacaran melainkan hanya ta’aruf, itu pun harus berada tak lama sebelum masa khitbah. Mungkin yang kami lakukan
adalah dosa, tetapi kemudian kami berusaha meminimalisir dosa itu dengan tak
sedikit pun melakukan pandangan berlama-lama, bersentuhan, berciuman dan lain
halnya. Sama seperti apa yang kami lakukan hari ini. Ditempat ini. Didalam
ruangan ini. Di perpustakaan.
“Masih
lama?” Tanya Nara menghampiriku sebentar seraya mengotak-atik halaman buku yang
akan dia pinjam. “Sebentar lagi. Kalau mau, duluan saja. Gak apa-apa kok.”
Sahutku yang kemudian memberikan senyuman tiga detik sebelum ia mengangguk dan
pergi beranjak meninggalkanku. Seperti itulah kegiatan kami dan itulah yang
harusnya kami lakukan seterusnya. Selepas Nara tinggalkan, aku meneruskan
aktifitas membacaku. Sebenarnya tidak benar-benar fokus, karena pikiranku
sedikit teralih dengan ganjalan mengenai masalah sepucuk surat itu. Sungguh
hanya tentang sepucuk surat.
Aku
meminjam dua buku dan kemudian mengakhiri kegiatanku di perpustakaan siang itu.
Mata kuliah selanjutnya adalah Ushul Fikih dan kali ini pembahasannya adalah
tentang ‘Urf (Kebiasaan). Aku jelas
harus bersiap diri untuk mengikuti kuliah selanjutnya. Ada beberapa penjelasan
yang ku dapatkan tentang ‘Urf, salah
satunya adalah tentang ‘Urf yang
bersifat shahih dan ‘Urf yang bersifat fasid.
‘Urf orang yang
berpacaran kadang bisa menjadi shahih, kadang bisa juga menjadi fasid.
Tergantung orang yang menjalaninya. :) :)
Begitulah
tepatnya bunyi dari kicauan pada beranda akun facebook-ku hari itu setelah selesai mengikuti proses perkuliahan. Artinya
sepasang kekasih itu terkadang boleh melakukan pendekatan jika setelahnya
memang terdapat niat untuk mengarah pada pernikahan, dan kebiasaan inilah yang
dibilang shahih. Tapi terkadang pula
dapat melakukan kebiasaan yang menjadikan proses saling mengenal antara mereka
itu menjadi fasid atau haram.
Contohnya seperti meminta pelukan saat bergoncengan, karena jika hal ini tidak
dilakukan maka sang cowok akan merasa seperti tukang ojek. Inilah kebiasaan
yang melekat pada celotehan anak muda zaman sekarang dan seperti inilah batasan
yang sangat aku dan Nara jaga. Pada dasarnya, seperti apapun itu semua kembali
pada orang-orang yang menjalaninya.
Tau
kah apa yang terjadi setelah hari itu? Hubunganku dengan Nara pun berakhir.
Dalam proses saling mengenal dengan orientasi yang memang ingin mengarah pada pernikahan,
tetapi belum ada kematangan lahir dan batin didalamnya membuat kami harus
memutuskan jalan itu. Nara salah sangka dengan perkataan yang ku lontarkan pada
status facebook itu. Ia mengira bahwa
aku menghalalkan pacaran dan akhirnya semua orang akan menjadikannya sebagai
alasan pendekatan. Nara takut bahwa hal itu nantinya akan mendatangkan bagiku
dosa yang besar. Sama besarnya seperti status hubungan yang sedang melekat
diantara kami berdua. Tak ada alasan kuat bagiku untuk tetap mempertahankan apa
yang telah Nara tinggalkan dan tak ada kekuatan bagiku untuk mengatakan tidak
pada hal yang telah Nara putuskan. Semuanya berakhir pada situasi masih saling
mencintai. Semuanya harus terhalang karena memang usia kami yang belum saatnya
untuk memikirkan pernikahan. Nara dua tahun lebih tua dariku, tetapi jelas yang
ada di otak kami berdua hanyalah tentang bagaimana semua perjalanan kuliah ini
dapat segera terselesaikan. Keputusan itu pun bulat. Sangat bulat. Hingga
akhirnya secara perlahan Nara menjaga jarak denganku, dalam kondisi sama sekali
tidak mengetahui bahwa batinku sangat tersiksa. Aku sungguh merindukan semua
masa-masa pendekatan itu. Masa dimana dia dan aku dapat saling bertukar
pikiran. Dapat saling bercanda satu sama lain walau hanya melalui telepon.
Tidakkah dia memahami itu? Tidak. Nara sungguh polos. Dia tentu tidak bermain
pada perasaan, sebab yang lelaki sering gunakan adalah logika. Jelas yang ia
lakukan sekarang adalah berdasarkan apa yang logikanya katakan. Bahwa aku dan
dia telah putus. Telah tak terikat hubungan apapun dan alangkah lebih baiknya
tak berkomunikasi dulu untuk sementara waktu. Hingga akhirnya…aku berikan
hadiah terakhir untuknya sebagai ungkapan terimakasih atas pengajaran secara
batiniah yang ia berikan selama ini padaku.
Mari kita tempuh
jalan kita masing-masing. Ingatlah, untuk menjadi luar biasa kau tak perlu
menjadi orang lain… jadilah dirimu sendiri. Seperti Nara yang ku kenal. Melangkah
lah dengan kakimu sendiri, berjalan lah seperti apa yang kau mau dan aku akan menunggu
dengan setia disini. Terimakasih banyak, Naratama Asra.
Begitulah
isi surat terakhirku padanya.
***
“Iska,
jadwal tour kita ke Samarinda itu
tanggal dua Januari kan?”
“Iya,
Ra. Kenapa?”
“Bisa
tidak kita tetap tinggal di kota ini untuk bertahun baru? Kita kan tahun
kemarin sudah bertahun baru di Samarinda…nah, jadi tahun ini aku pengen tahun
baru di kota ini saja, Is. Gimana?”
“Berarti
kita kehilangan jadwal keberangkatan pesawat kita besok, Ra. Gak apa-apa?”
“Gak
apa-apa. Nanti kita bisa pesan tiket lagi.”
Percakapanku
dengan Iska itu akhirnya berujung pada persetujuan Iska untuk tetap tinggal di
kota Palangkaraya ini dalam melewatkan malam pergantian tahun 2014. Selepas
kegiatan tour bedah novel siang tadi
yang diadakan di kampus hijau STAIN Palangkaraya, aku pun menyempatkan diri
untuk beristirahat dulu disebuah hotel mewah yang menjadi fasilitasku selama
berada di kota ini. Tak terasa, matahari yang tadinya masih bersinar dengan
cerah pun berganti dengan cahaya bulan yang siap menerangi bumi di malam
pergantian tahun ini. Tak banyak yang berubah dari wajah kota cantik
Palangkaraya ini, hanya saja jalanan yang dulu terang karena sorotan lampu
mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, kini jalanan itu sungguh sangat
terang dengan lampu-lampu jalanan yang menghiasinya. Gedung-gedung pencakar
langit pun mulai terlihat berdiri menandingi beberapa hotel bintang lima
seperti yang ku tempati sekarang. Tersadar dengan kemeriahan yang terjadi
diluar gedung hotel itu, dan atas dasar prinsip tak mau melewatkan momen ini
hanya dengan berdiam diri, aku pun mengajak Iska untuk keluar menuju ke
tempat-tempat yang menjadi pusat acara di kota ini.
Dengan
menggunakan fasilitas mobil yang disediakan, kami berdua beserta supir yang
mengantar pun keluar menuju tempat yang ramai dikunjungi penghuni kota ini.
“Mohon
maaf, Mbak Aira. Ini ada titipan dari seorang kurir untuk Mbak.” Ucap supir itu
sesaat sebelum memacu laju mobilnya. Aku pun terheran. Satu bucket bunga mawar merah, beserta
sepucuk surat.
Selamat datang
kembali di kota Palangkaraya, Zafira Ainara. Selamat menikmati malam pergantian
tahun di kota ini. Aku cukup menyaksikan itu semua dari atas jembatan Kahayan,
karena semuanya akan terlihat lebih indah malam ini. :) :)
Isi
surat itu terasa janggal dengan tak ada permen hati diakhir tulisannya, sebab
permen berbentuk hati itu dihadirkan sang pengirim dalam bentuk nyata. Pertanda
apa ini? Iska yang membaca pula isi surat kecil itu pun hanya dapat menatapku
bingung, sebab ia tak sekali pun mengetahui cerita masa lalu yang ku alami lima
tahun silam.
“Pak,
tolong antar kami ke jembatan Kahayan, sekarang!” Pintaku dengan panik pada
supir itu. mendengar hal itu, beliau pun mengubah arah haluan mobil itu. Hatiku
benar-benar tak karuan. Sungguh tak tenang dan akhirnya hari ini aku dapat
mengakhiri semua teka-teki tentang penggemar itu selepas aku bisa dibilang
sudah dapat melupakan semua kejadian itu. Tak ada seorang pun yang ku temui
disana. Tak ada tanda-tanda siapa pun kecuali para muda mudi yang sedang memadu
cinta. Mataku menelusuri setiap sisi pagar jembatan itu, dan tak ada tanda
siapa pun yang mencurigakan. Namun tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah
permen berbentuk hati padaku. Ia datang dari arah belakangku setelah turun dari
sebuah mobil mewah berwarna hitam.
“Aku sudah membaca semua cerita pada novel itu. Aku mengerti bahwa kau berusaha menjelaskannya padaku. Maafkan
aku telah salah paham padamu. Bukan ku tak cinta, tetapi hanya saja waktu yang
belum tepat saat itu. Bisa kah kita mulai semuanya dari awal di tahun 2014 ini,
Aira?”
Mataku
berbinar. Nara berada tepat didepanku. Tanganku gemetar, jantungku tak kalah
hebatnya berdegup kencang.
“Tidak,
Nara…”
“Kenapa?
Jangan bilang kalau kamu telah ingkar pada janjimu sendiri yang tertulis pada
surat terakhir itu…”
Aku
mundur satu langkah dan menatap nanar ke arah Nara.
“Lima
tahun aku menggunakan nama pena Zafira Ainara, bukan tanpa sebab. Berharap
keberuntungan itu selalu hadir pada Ainara yaitu Aira dan Nara. Bagaimana
mungkin aku bisa ingkar?”
“Lantas?
Kenapa tidak, Ra?”
“Jangan
ulangi kesalahan yang sama, Nara. Jangan mulai lagi semuanya dari awal, tetapi
mari kita lanjutkan semua ini ke jenjang yang lebih serius.”
Nara
tersenyum. Ia maju dua langkah dan aku pun mundur satu langkah lagi. Ia
menyodorkan sebuah cincin dan memakaikannya pada jari manisku.
“Aira
Chintya…menikah lah denganku di awal 2014 ini.” Ajak Nara dengan nada yang
romantis. Aku pun mengangguk samar dan ia tau bahwa itulah tanda setuju dariku.
“Bismillah…” Ucapku dalam hati sembari
tersenyum berseri.
SELESAI


0 komentar:
Posting Komentar