Selasa, 31 Desember 2013

AINARA



AINARA

Oleh : Nanaa Rasnadianti Afifah

Senang bisa kembali terbangun dalam balutan senyum mentari pagi ini, meskipun sinar itu harus lebih banyak bersabar untuk menunda kehadirannya dibalik derasnya hujan yang mengguyur kota metropolitan itu. Pemandangan yang sungguh tak asing, dapat ku telisik lebih dekat seperti biasanya dari balik jendela apartemenku. Jalan raya yang padat, menunjukkan bahwa aktifitas semua orang telah dimulai. Pertanda juga bahwa aku telah menghabiskan waktu tidurku dengan sangat panjang tadi malam, hingga harus bangun kesiangan. Beruntung kewajibanku untuk shalat shubuh tertunda, lantaran harus selalu siap sedia menerima tamu bulanan.

Tubuhku terasa sakit. Kepalaku masih terasa pusing. Sedikit yang dapat ku ingat dari scene cerita hidup yang ku jalani kemarin. Hasil tensi dari dokter menunjukkan bahwa aku mengalami tekanan darah rendah lagi. Kondisi ini selalu saja kembali menyapa saat selingkung aktifitas padat harus ku jalani. Terlebih lagi jadwal deadline yang diberikan oleh penerbit memang semakin dekat. Untuk akhir tahun kali ini, aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk dipinang oleh salah satu penerbit kondang yang bersedia menerima karyaku. Bayangan tentang penerbitan novel dengan ketebalan yang lumayan telah tergambar di otakku. Jelas pula bahwa itu akan menjadi resolusi yang sangat ku inginkan di tahun 2014.
Di mataku masih sangat terasa kantuk itu. Ada saja keinginan untuk kembali merebahkan diri, tetapi apa daya jika memang sosok ‘Agenda berjalan’ telah masuk ke kamarku dan berjalan dengan memegang segelas air putih di tangan kanannya.
“Setelah dapat resep dokter tadi malam, langsung ku tebus obatnya di Apotik. Ini… di minum dulu, supaya tekanan darah kamu kembali normal.” Jelas Iska seraya menyodorkan segelas air putih dan beberapa pil obat itu padaku. Aku hanya mengangguk kemudian meneguk pil tersebut diiringi regukan air putih itu. Iska Handayani memang baru tiga tahun bersamaku, tetapi keberadaannya dalam hidupku memberikan warna tersendiri yang hampir selaras dengan rasa yang ku dapatkan ketika aku berada disekeliling keluarga besarku sendiri. Pasca kepergian ayahku, aku jelas telah kehilangan sosok terhebat yang dulu selalu menjadi pelipur lara akan sepak terjang kami dalam dunia takdir. Terlebih lagi saat ibuku harus menjadi pendamping adikku dalam prosesnya menimba ilmu di Malaysia, aku jelas harus mengahadapi hari-hariku sendirian di kota ini. Iska bukan sekedar mengemban amanah yang ibu sampaikan padanya, tetapi semua yang ia lakukan sangat terbaca jelas dalam polanya bertingkah padaku, bahwa ia tulus. Sangat tulus, seperti apa yang ia lakukan sekarang padaku.
“Setelah agak enakan, kamu istirahat aja lagi yah…”
“Memangnya hari ini tidak ada agenda? Bukannya ada janji untuk ketemu sama editor?”
“Oh, itu. Beliau membatalkan janji itu, Ra. Katanya itu diteruskan nanti saja, setelah tour bedah novel kamu selesai. Lagian beliau juga sudah tau kondisi kamu kemarin yang pingsan setelah menghadiri acara bedah novel itu.” Jelas Iska sembari merebahkan tubuhku di kasur kemudian menyelimutiku dengan selimut berwarna merah yang selalu ku bawa kemana pun aku pergi. Wajahnya tampak lelah, tetapi tak ada sedikit pun gurat muram yang ia perlihatkan padaku.
“Makasih, Is. Kamu juga harus istirahat, karena perjalanan kita masih panjang. Oh iya, tour selanjutnya kita ke kota mana?”
Iska tersenyum. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memunguti semua sampah kertas yang ada di meja kerjaku kemudian memasukkannya ke kantong plastik kecil yang ia dapat dari laci. setelah selesai, ia berjalan mendekati tempat tidurku dan mengambil gelas bekas air putih tadi.
“Istirahat lah. Bersiap untuk menyapa kota Palangkaraya besok.” Seakan tak memberikanku kesempatan untuk bertanya lebih jauh, Iska langsung berjalan keluar dari kamarku. Aku pun terdiam. Sesekali menghela nafas tak seirama dengan dentang detik pernafasan normal. Aku berusaha memejamkan mataku, tetapi usaha itu gagal. Rencana untuk beristirahat pun terusik. Otakku dipenuhi dengan semua angan tentang kota itu, seakan jiwaku telah berada jauh disana sementara aku tau raga ini masih kokoh berdiri disini.
Iska tau bahwa aku pasti terhenyak jika mendengar nama kota itu. Sebuah kota yang menjadi perkembanganku dalam menuntut ilmu. Kota yang menyimpan beribu ingatan dan berjuta kenangan indah. Kota yang menjadi saksi jatuh bangunnya kehidupanku pada masa lalu. Tak ada tanda harapan kala itu, bahkan untuk membangkitkannya pun sungguh tak mudah. Sangat sulit untuk lepas dari keterjebakanku pada lembaran hidup terdahulu. Kisah sepi di peraduan senja itu selalu menjadi ukiran pilu, selalu berhasil menyentuh sisi penyesalan di sudut hatiku. Lima tahun berlalu sejak kepergianku dari kota Palangkaraya. Sebuah kota cantik yang selalu berusaha menjaga keindahannya dari peradaban kumuh. Walau tak seluas kota Jakarta, kota itu selalu dapat memberikan kenyamanan yang luar biasa kala berada disana.
Mematah bayang tentang kota itu, aku pun menyeka air mata yang menetes. Aku menangis. Sungguh tak seharusnya ku lakukan hal demikian, sebab harusnya aku telah berhasil melupakan semuanya. Semua kenangan buruk yang berada diantara indahnya ingatan tentang kejadian-kejadian menyenangkan saat berada di kota itu.
Allah yang Maha cinta, teguhkan hatiku. Selaraskan ingatanku. Kembalikan jika memang itu yang harusnya ku hadapi dan hilangkanlah jika memang itu yang tak seharusnya ku sesali. Aku sungguh tak bisa berdusta, hati ini masih mencinta…cinta yang terpelihara dengan benci diantaranya. Jangan guratkan api dalam hatiku, Rabb…berikan penyejuk diantaranya, walau cepat atau lambat aku harus kembali. Kembali bersua dengannya, walau bukan atas nama cinta.” Rintihku dalam hati. Air mata yang ku seka kian terasa deras mengalir, membasahi pipi dan bantal yang ku rebahi. Sejenak menenangkan hati, aku menarik selimut itu agar menutupi semua bagian tubuhku, termasuk kepala. Aku pun terlelap dalam kondisi badan yang kurang stabil dan keadaan hati yang tak bersahabat.
***
“Aira!” teriak seorang gadis memanggilku dari kejauhan. Terlihat dia berlari menghampiriku dengan selembar amplop berada ditangan kanannya. Bianka, begitulah nama panggilannya disebuah organisasi kampus yang bergerak pada bidang jurnalistik. Posisinya sebagai koordinator bidang redaksi didalamnya, bisa menjadi salah satu alasan kuat kenapa dia harus mencariku sepagi ini. Aku dengannya jelas terlibat dalam situasi yang selalu sama. Bisa dibilang sebagai aktifitas yang harus ada antara penerbit dan penulisnya. Ku pikir, bisa jadi aku mendapatkan honor yang lumayan dari hasil tulisanku yang telah mereka terbitkan pada majalah dinding kampus bulan ini. Setidaknya bisa ku gunakan untuk membeli baju baru yang kemarin ku lihat terpajang pada patung di toko depan kampus. “Ini…ada sepucuk surat buat kamu yang masuk ke redaksi kami. Ku pikir ini adalah surat dari penggemar untuk idolanya, jadi ini bukan hak kami untuk membacanya. Nih…”
Anganku tentang rencana membeli baju baru pun pupus, seiring dengan beradanya sepucuk amplop ditanganku yang ternyata isinya bukan lembaran uang seperti yang ku impikan. Aku terdiam, menatap amplop putih itu. Sejumlah pertanyaan berlalu lalang didepan pintu hatiku, seakan mengetuk satu persatu untuk meminta jawaban. Seraya meneruskan langkahku yang tertunda untuk menuju ruang kelas, aku pun membuka dan membaca isi dari surat itu. Tepat! Bianka benar, ini surat dari penggemarku. Tetapi siapa? Tak ada satu pun tanda pengenal yang menunjukkan identitas didalamnya. Hanya goresan pena bertinta biru yang memang dapat dikenali bahwa itu seperti tulisan tangan seorang lelaki. Ada satu hal yang membuat alisku mengerut. Diakhir tulisan itu termuat sebuah gambar kecil seukuran huruf yang lain. Sebuah permen berbentuk hati yang dihiasi dengan pita. Tentu saja ini sangat membuatku bingung.
“Dari pada menggambar itu, alangkah lebih baiknya dia menuliskan namanya… Atau kalau memang pengen menggambar, sekalian aja gambar mukanya. Biar aku tau. Huh!” Gerutuku dengan nada suara yang pelan, sekedar untuk berbicara dengan diriku sendiri. Aku pun duduk pada posisi kursi seperti biasa dan kembali mengikuti perkuliahan seperti biasa pula. Hatiku sedikit menegur untuk bisa mengendalikan otak agar bisa berkonsentrasi, tapi nyatanya kehadiran surat itu sungguh menggangguku. Sebab tak hanya sekali ini ku dapatkan surat seperti itu, setelah sebelumnya ku terima dengan beberapa cara yang berbeda. Ada yang diselipkan pada daun pintu rumahku. Ada pula yang ku temukan langsung berada diantara kamus Ekonomi yang selalu ku bawa kemana pun aku pergi. Mengherankan, tetapi apa dayaku? Hingga saat ini aku hanya bisa bertanya tanpa bisa menjawab.
Selepas jam perkuliahan berakhir, aku pun berniat untuk menuju perpustakaan megah yang berdiri sebagai icon kampusku. Ada beberapa referensi buku yang harus ku cari sebagai penunjang tugas kuliahku. Berdiri diantara rak-rak buku sudah menjadi rutinitas yang tidak lepas dari kegiatan mahasiswi sepertiku, tetapi tidak rasanya untuk hari itu. Ada seorang lelaki yang berdiri tepat di rak sebelah, bersebelahan dengan rak tempatku berdiri. Posisi kami yang saling berhadapan, memungkinkan kami untuk saling menatap diantara susunan buku-buku yang begitu rapat. Saling memandang, walau hanya terhitung tiga detik. Naratama Asra, itulah nama lengkapnya. Walau kerap sering dipanggil Asra, ia lebih suka dipanggil Nara. Sebuah panggilan yang juga berlaku untukku ketika menyapanya.
“Nara, maaf tadi malam SMS-mu gak sempat ku balas. Keburu tidur duluan…” Ucapku seraya membolak-balik halaman buku yang ku cari, dengan masih berdiri diantara rak itu.
“Gak apa-apa. Kamu juga pasti lelah karena harus belajar untuk ujian, ya kan?” Tanyanya sekaligus menjawab permintaan maafku. Aku pun memandangnya dan mengangguk samar seraya tersenyum. Pandangan itu pun ku akhiri dengan beranjak pergi meninggalkannya, untuk kemudian duduk pada salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu. Tak banyak yang dapat kami lakukan ketika bertemu selain melakukan hal demikian. Menatap pun kami sama-sama tidak berani terlalu lama, sebab bagi kami batas-batas agama harus tetap dijaga sebagai jarak antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
Nara adalah sosok lelaki yang mungkin menjadi idola setiap perempuan yang melihatnya. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan wajah tampan yang didukung oleh hidungnya yang mancung layaknya keturunan Arab, perempuan mana pun jelas menyukainya. Tak terkecuali aku. Tetapi dengan wajah yang tidak terlalu cantik dan hidung yang ukurannya bisa dibilang pas-pasan, aku jelas awalnya tidak berharap bisa berada dekat dengannya. Sangat tidak berpikir atau bahkan terlintas niat untuk saling mengenal satu sama lain dengannya. Hanya karena satu pertanyaanku tentangnya pada seorang perempuan bernama Riris, tak ku sangka itu menjadi awal yang tak terduga. “Itu ya yang namanya Nara?” Begitulah pertanyaan kecilku saat itu. Niatku waktu itu hanya sekedar ingin tau wajah dari seseorang yang menjadi teman baruku di jejaring sosial Facebook. Terlebih lagi dia juga mengaku sebagai mahasiswa dari kampus yang sama denganku.
Berangkat dari rasa penasaranku itulah, akhirnya pertanyaan kecil tanpa sengaja itu tersampaikan padanya. Dengan diiringi pujian-pujian tentang dirinya yang katanya ‘aku’-lah yang mengatakan itu, Nara pun meminta digit dari nomor ponselku. Sebuah kondisi yang sama sekali tidak terlintas dipikiranku itu pun seketika membuat jantungku berdegup kencang. Sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk tidak berkata terimakasih pada Riris, tetapi melihat dari kondisi fisik kami yang saling berseberangan, aku pun mengerti bahwa mungkin Nara hanya sekedar berniat memberikanku sinyal hijau sebagai tanda jalan, sedangkan ketika aku terhasut untuk berjalan…maka akan mendadak warna itu berubah menjadi merah. Wow! Itu bayangan yang sungguh mengerikan.
Sangat sulit membuka hati untuk cinta yang baru, pasca diriku jatuh cinta pada sahabat yang ku kenal tiga tahun silam. Reza Arsyad namanya. Selama masa tiga tahun itu pula, cinta itu tetap tegak dengan kokoh memegang gelar ‘tak terbalas’ hingga kini. Intensitas pertemuanku dengannya yang mulai berkurang setelah sama-sama duduk di bangku kuliah ini, aku pun mulai sedikit bisa mengurangi aktifitas otakku untuk memikirkannya. Terlebih lagi setumpuk tugas kuliah yang ku pikir jauh lebih penting untuk segera diselesaikan itu menghadang didepan mataku. Rasanya taka da celah bagiku untuk berkutat pada pemikiran-pemikiran tentang hal yang bisa jadi menyita waktuku untuk belajar.
Kehadiran Nara menjadi warna baru dalam kehidupanku. Semenjak masa perkenalan itu, aku tau bahwa mungkin langkah selanjutnya yang dilakukan olehnya adalah menghubungi nomor ponselku. Tepat! Seminggu setelah ia dapatkan 12 digit nomor ponselku itu, ia pun menelepon. Suatu keadaan yang jelas membuatku berpikir dua kali untuk menerima panggilannya pada ponselku, karena sebelumnya aku tak pernah melakukan ini dan memang belum pernah seperti ini. Saat itu sungguh tenang hatiku mendengar suaranya dikejauhan sana. Suara dengan tingkat nada yang memang dibilang lembut, sangat lembut. Aku mungkin beruntung dapat merasakan ini, sebuah kesempatan berbicara dengan orang yang memang ku kagumi.
Seorang alumni Pesantren Al-Falah, berkarakter pendiam misterius, belum pernah pacaran sekali pun dan berdomisili asli kota Palangkaraya, begitulah informasi yang ku dapat dari beberapa sumber akurat yang berkaitan tentangnya. Tak ada riwayat play boy seperti yang ku takutkan, itulah yang membuatku yakin untuk mulai sedikit mengenalnya walau hanya sebatas teman. Perjalanan panjang saling mengenal satu sama lain pun kami lewati. Bersenda gurau walau hanya melalui pesan singkat dan telepon. Selama masa pendekatan itu pula kami sama-sama saling menjaga batas. Menjaga niat agar tak masuk ke dalam suatu tanda bahwa ada setan yang berada diantaranya. Nara pernah mengajakku untuk jalan-jalan, sekedar mengitari indahnya kota cantik Palangkaraya, dan pada saat itu pula ia nyatakan cintanya padaku. Berdebatan pun terjadi antara kami, bukan tentang caranya menyatakan cinta, tetapi tentang bagaimana kami harusnya dapat menjalani ini semua dengan wajar. Posisi sebagai anak muda yang labil, membuat kami harus saling mengikat dengan hubungan yang tak dianjurkan dalam agama. Nara tau hukumnya tentang itu, tetapi ia diam dengan keyakinan bahwa diantara kami takkan terjadi apa pun. Tepat! Memang tak terjadi apa pun. Bisa jadi jalan-jalan kala itu adalah yang pertama dan yang terakhir kalinya bagi kami berdua. Komunikasi yang terjadi antara kami hanyalah sebatas SMS dan telepon, itu pun kalau kami sama-sama tidak sibuk. Rutinitas seperti ini memang membosankan, tetapi bukan berarti aku tak terima. Justru akan lebih baik begitu, mengingat bahwa dia adalah alumni sebuah pesantren dan aku sendiri sebagai seorang alumni sekolah berlatar belakang agama pula.
Konsep berpacaran yang kadang disalah artikan oleh beberapa pihak, membuat kami berdua enggan terlalu bercerita tentang itu. Kadang mereka yang mengetahui hal ini akan berpikir bahwa yang kami jalani sama seperti yang dijalani oleh kebanyakan anak muda lainnya. Satu hal yang harus mereka pahami, pada dasarnya dalam agama tak ada anjuran untuk berpacaran melainkan hanya ta’aruf, itu pun harus berada tak lama sebelum masa khitbah. Mungkin yang kami lakukan adalah dosa, tetapi kemudian kami berusaha meminimalisir dosa itu dengan tak sedikit pun melakukan pandangan berlama-lama, bersentuhan, berciuman dan lain halnya. Sama seperti apa yang kami lakukan hari ini. Ditempat ini. Didalam ruangan ini. Di perpustakaan.
“Masih lama?” Tanya Nara menghampiriku sebentar seraya mengotak-atik halaman buku yang akan dia pinjam. “Sebentar lagi. Kalau mau, duluan saja. Gak apa-apa kok.” Sahutku yang kemudian memberikan senyuman tiga detik sebelum ia mengangguk dan pergi beranjak meninggalkanku. Seperti itulah kegiatan kami dan itulah yang harusnya kami lakukan seterusnya. Selepas Nara tinggalkan, aku meneruskan aktifitas membacaku. Sebenarnya tidak benar-benar fokus, karena pikiranku sedikit teralih dengan ganjalan mengenai masalah sepucuk surat itu. Sungguh hanya tentang sepucuk surat.
Aku meminjam dua buku dan kemudian mengakhiri kegiatanku di perpustakaan siang itu. Mata kuliah selanjutnya adalah Ushul Fikih dan kali ini pembahasannya adalah tentang ‘Urf (Kebiasaan). Aku jelas harus bersiap diri untuk mengikuti kuliah selanjutnya. Ada beberapa penjelasan yang ku dapatkan tentang ‘Urf, salah satunya adalah tentang ‘Urf yang bersifat shahih dan ‘Urf yang bersifat fasid.
‘Urf orang yang berpacaran kadang bisa menjadi shahih, kadang bisa juga menjadi fasid. Tergantung orang yang menjalaninya. :) :)
Begitulah tepatnya bunyi dari kicauan pada beranda akun facebook-ku hari itu setelah selesai mengikuti proses perkuliahan. Artinya sepasang kekasih itu terkadang boleh melakukan pendekatan jika setelahnya memang terdapat niat untuk mengarah pada pernikahan, dan kebiasaan inilah yang dibilang shahih. Tapi terkadang pula dapat melakukan kebiasaan yang menjadikan proses saling mengenal antara mereka itu menjadi fasid atau haram. Contohnya seperti meminta pelukan saat bergoncengan, karena jika hal ini tidak dilakukan maka sang cowok akan merasa seperti tukang ojek. Inilah kebiasaan yang melekat pada celotehan anak muda zaman sekarang dan seperti inilah batasan yang sangat aku dan Nara jaga. Pada dasarnya, seperti apapun itu semua kembali pada orang-orang yang menjalaninya.
Tau kah apa yang terjadi setelah hari itu? Hubunganku dengan Nara pun berakhir. Dalam proses saling mengenal dengan orientasi yang memang ingin mengarah pada pernikahan, tetapi belum ada kematangan lahir dan batin didalamnya membuat kami harus memutuskan jalan itu. Nara salah sangka dengan perkataan yang ku lontarkan pada status facebook itu. Ia mengira bahwa aku menghalalkan pacaran dan akhirnya semua orang akan menjadikannya sebagai alasan pendekatan. Nara takut bahwa hal itu nantinya akan mendatangkan bagiku dosa yang besar. Sama besarnya seperti status hubungan yang sedang melekat diantara kami berdua. Tak ada alasan kuat bagiku untuk tetap mempertahankan apa yang telah Nara tinggalkan dan tak ada kekuatan bagiku untuk mengatakan tidak pada hal yang telah Nara putuskan. Semuanya berakhir pada situasi masih saling mencintai. Semuanya harus terhalang karena memang usia kami yang belum saatnya untuk memikirkan pernikahan. Nara dua tahun lebih tua dariku, tetapi jelas yang ada di otak kami berdua hanyalah tentang bagaimana semua perjalanan kuliah ini dapat segera terselesaikan. Keputusan itu pun bulat. Sangat bulat. Hingga akhirnya secara perlahan Nara menjaga jarak denganku, dalam kondisi sama sekali tidak mengetahui bahwa batinku sangat tersiksa. Aku sungguh merindukan semua masa-masa pendekatan itu. Masa dimana dia dan aku dapat saling bertukar pikiran. Dapat saling bercanda satu sama lain walau hanya melalui telepon. Tidakkah dia memahami itu? Tidak. Nara sungguh polos. Dia tentu tidak bermain pada perasaan, sebab yang lelaki sering gunakan adalah logika. Jelas yang ia lakukan sekarang adalah berdasarkan apa yang logikanya katakan. Bahwa aku dan dia telah putus. Telah tak terikat hubungan apapun dan alangkah lebih baiknya tak berkomunikasi dulu untuk sementara waktu. Hingga akhirnya…aku berikan hadiah terakhir untuknya sebagai ungkapan terimakasih atas pengajaran secara batiniah yang ia berikan selama ini padaku.
Mari kita tempuh jalan kita masing-masing. Ingatlah, untuk menjadi luar biasa kau tak perlu menjadi orang lain… jadilah dirimu sendiri. Seperti Nara yang ku kenal. Melangkah lah dengan kakimu sendiri, berjalan lah seperti apa yang kau mau dan aku akan menunggu dengan setia disini. Terimakasih banyak, Naratama Asra.
Begitulah isi surat terakhirku padanya.
***
“Iska, jadwal tour kita ke Samarinda itu tanggal dua Januari kan?”
“Iya, Ra. Kenapa?”
“Bisa tidak kita tetap tinggal di kota ini untuk bertahun baru? Kita kan tahun kemarin sudah bertahun baru di Samarinda…nah, jadi tahun ini aku pengen tahun baru di kota ini saja, Is. Gimana?”
“Berarti kita kehilangan jadwal keberangkatan pesawat kita besok, Ra. Gak apa-apa?”
“Gak apa-apa. Nanti kita bisa pesan tiket lagi.”
Percakapanku dengan Iska itu akhirnya berujung pada persetujuan Iska untuk tetap tinggal di kota Palangkaraya ini dalam melewatkan malam pergantian tahun 2014. Selepas kegiatan tour bedah novel siang tadi yang diadakan di kampus hijau STAIN Palangkaraya, aku pun menyempatkan diri untuk beristirahat dulu disebuah hotel mewah yang menjadi fasilitasku selama berada di kota ini. Tak terasa, matahari yang tadinya masih bersinar dengan cerah pun berganti dengan cahaya bulan yang siap menerangi bumi di malam pergantian tahun ini. Tak banyak yang berubah dari wajah kota cantik Palangkaraya ini, hanya saja jalanan yang dulu terang karena sorotan lampu mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, kini jalanan itu sungguh sangat terang dengan lampu-lampu jalanan yang menghiasinya. Gedung-gedung pencakar langit pun mulai terlihat berdiri menandingi beberapa hotel bintang lima seperti yang ku tempati sekarang. Tersadar dengan kemeriahan yang terjadi diluar gedung hotel itu, dan atas dasar prinsip tak mau melewatkan momen ini hanya dengan berdiam diri, aku pun mengajak Iska untuk keluar menuju ke tempat-tempat yang menjadi pusat acara di kota ini.
Dengan menggunakan fasilitas mobil yang disediakan, kami berdua beserta supir yang mengantar pun keluar menuju tempat yang ramai dikunjungi penghuni kota ini.
“Mohon maaf, Mbak Aira. Ini ada titipan dari seorang kurir untuk Mbak.” Ucap supir itu sesaat sebelum memacu laju mobilnya. Aku pun terheran. Satu bucket bunga mawar merah, beserta sepucuk surat.
Selamat datang kembali di kota Palangkaraya, Zafira Ainara. Selamat menikmati malam pergantian tahun di kota ini. Aku cukup menyaksikan itu semua dari atas jembatan Kahayan, karena semuanya akan terlihat lebih indah malam ini. :) :)
Isi surat itu terasa janggal dengan tak ada permen hati diakhir tulisannya, sebab permen berbentuk hati itu dihadirkan sang pengirim dalam bentuk nyata. Pertanda apa ini? Iska yang membaca pula isi surat kecil itu pun hanya dapat menatapku bingung, sebab ia tak sekali pun mengetahui cerita masa lalu yang ku alami lima tahun silam.
“Pak, tolong antar kami ke jembatan Kahayan, sekarang!” Pintaku dengan panik pada supir itu. mendengar hal itu, beliau pun mengubah arah haluan mobil itu. Hatiku benar-benar tak karuan. Sungguh tak tenang dan akhirnya hari ini aku dapat mengakhiri semua teka-teki tentang penggemar itu selepas aku bisa dibilang sudah dapat melupakan semua kejadian itu. Tak ada seorang pun yang ku temui disana. Tak ada tanda-tanda siapa pun kecuali para muda mudi yang sedang memadu cinta. Mataku menelusuri setiap sisi pagar jembatan itu, dan tak ada tanda siapa pun yang mencurigakan. Namun tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah permen berbentuk hati padaku. Ia datang dari arah belakangku setelah turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam.
“Aku sudah membaca semua cerita pada novel itu. Aku mengerti bahwa kau berusaha menjelaskannya padaku. Maafkan aku telah salah paham padamu. Bukan ku tak cinta, tetapi hanya saja waktu yang belum tepat saat itu. Bisa kah kita mulai semuanya dari awal di tahun 2014 ini, Aira?”
Mataku berbinar. Nara berada tepat didepanku. Tanganku gemetar, jantungku tak kalah hebatnya berdegup kencang.
“Tidak, Nara…”
“Kenapa? Jangan bilang kalau kamu telah ingkar pada janjimu sendiri yang tertulis pada surat terakhir itu…”
Aku mundur satu langkah dan menatap nanar ke arah Nara.
“Lima tahun aku menggunakan nama pena Zafira Ainara, bukan tanpa sebab. Berharap keberuntungan itu selalu hadir pada Ainara yaitu Aira dan Nara. Bagaimana mungkin aku bisa ingkar?”
“Lantas? Kenapa tidak, Ra?”
“Jangan ulangi kesalahan yang sama, Nara. Jangan mulai lagi semuanya dari awal, tetapi mari kita lanjutkan semua ini ke jenjang yang lebih serius.”
Nara tersenyum. Ia maju dua langkah dan aku pun mundur satu langkah lagi. Ia menyodorkan sebuah cincin dan memakaikannya pada jari manisku.
“Aira Chintya…menikah lah denganku di awal 2014 ini.” Ajak Nara dengan nada yang romantis. Aku pun mengangguk samar dan ia tau bahwa itulah tanda setuju dariku.
Bismillah…” Ucapku dalam hati sembari tersenyum berseri.

SELESAI

0 komentar:

 

Catatan Cerdas Mahasiswa Template by Ipietoon Cute Blog Design