Minggu, 01 Desember 2013

Makalah Akhlak Tasawuf

Makalah Kelompok II

Akhlak Mahmudah :
Syukur, Sabar dan Istiqamah

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen : Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag
















Disusun oleh

NANA TAURAN SIDIK
NIM. 1202120184

SARIANTI
NIM. 1202120172

SRI WULANDARI
NIM. 1202120152







SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
JURUSAN SYARI’AH PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH KELAS A
TAHUN 1434 H / 2013 M


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sebagai manusia yang tercipta tidak lepas dari nafsu dan amarah, terkadang masalah kehidupan menjadi beban pikiran yang setiap orang pikul. Dengan polemik dan kisah hidup yang berbeda, tingkat masalah setiap manusia pun pada dasarnya berbeda pula. Namun ada hal yang menjadikannya sama, yaitu jika mereka dapat mengembalikan semua permasalahan itu pada pola pikir paling dasar yang mendasari kebahagiaan hati manusia. Ketenangan, ketenteraman, kedamaian dan terhindar dari segala beban yang menyesakkan dada adalah keinginan lumrah yang sewajarnya ada pada setiap pikiran individual. Dalam Islam, umatnya dituntun untuk mengembangkan pola pikir positif dengan mengetahui bagian-bagian penting dari apa yang dinamakan akhlak mahmudah, beberapa di antaranya adalah rasa syukur, sabar, dan istiqamah.
Inilah aspek teori yang sudah sering kita dengar. Istilah ringan dengan realisasi yang sangat sulit dicapai secara maksimal. Untuk dapat mengukurnya pun bukan menjadi hak individu lain, sehingga akhlak syukur, sabar dan istiqamah hanya dapat dikenali penerapannya dalam diri seseorang melalui beberapa sudut pandang yang terlihat, tetapi tidak untuk sebuah nilai pasti yang diukur secara kuantitatif, melainkan kualitatif. Dalam makalah kali ini, penulis akan mengupas tentang syukur, sabar, dan istiqamah dari segi pengertian dan peran penting dari ketiga akhlak tersebut dalam kehidupan seseorang.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan syukur, sabar dan istiqamah?
2. Bagaimana peran penting ketiga akhlak tersebut dalam kehidupan?
3. Bagaimana perpaduan peran ketiga akhlak tersebut?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar mampu memahami pengertian syukur, sabar, dan istiqamah.
2. Agar mampu memahami peran penting ketiga akhlak tersebut.
3. Agar mampu memahami keterkaitan peran ketiga akhlak tersebut.

D. Kegunaan Penulisan
1. Kegunaan teoritis yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang Akhlak Mahmudah: Syukur, Sabar, dan Istiqamah.
2. Kegunaan praktis yaitu menjadi khazanah keilmuan bagi mahasiswa yang mempelajari Akhlak Tasawuf.

E. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah metode telaah kepustakaan dan telusur internet, yang mana penulis menggunakan buku-buku dari perpustakan dan hasil pencarian di internet sebagai bahan referensi dimana penulis mencari literatur yang sesuai dengan materi yang di kupas dalam makalah ini dan penulis menyimpulkannya dalam bentuk makalah.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Syukur, Sabar, dan Istiqamah
1. Syukur
Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya). Syukur atau bersyukur atas sesuatu adalah merasa senang dan berterima kasih atas nikmat yang Tuhan berikan terhadap dirinya. Hal ini tercermin dari aktifitas atau amal seseorang yang memperoleh nikmat tersebut dalam beribadah kepada Allah, imannya bertambah teguh dan lidahnya semakin banyak mengucap zikir. Jadi sebenarnya jika membicarakan tentang syukur, maka sama halnya dengan membicarakan tentang nikmat Tuhan, karena di antara keduanya mempunyai hubungan yang jelas, bahkan merupakan satu kesatuan. Timbulnya rasa syukur setelah memperoleh nikmat berupa pangkat, kedudukan, kekayaan, dan lain sebagainya, atau setelah merasakan bahwa apa yang ia miliki adalah nikmat Tuhan.
Dalam hal demikian, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya manusia akan merasa sangat senang dan memuji segala kekuasaan Tuhan ketika mereka diberikan nikmat atau hal yang diinginkannya telah tercapai. Maka pada kondisi demikianlah seseorang akan dengan tanpa pemikiran panjang seketika mengucapkan syukur. Anjuran untuk bersyukur ini pun telah dipertegas Allah dalam firman-Nya Q.S. Luqman ayat 12 yang berbunyi sebagai berikut.

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Berbicara mengenai definisi syukur, ada pula pendapat Syekh Fadhlalla Haeri dalam bukunya yang berjudul “The Wisdom of ‘Ibn ‘Ata Allah” yang diterjemahkan oleh Lisma Dyawati Fuaida, beliau memberi tanggapan sebagai berikut.
Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, dan akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rejeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur baik ketika memperoleh nikmat atau tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur Illahi tidak memperdulikan nikmat maupun penderitaan, karena mereka melihat karunia dan rahmat Allah dibalik semua penampakan dan pengalaman.

Dari definisi tersebut, penulis jelas dapat menyimpulkan bahwa setiap orang telah sebagian besar mendapatkan teori yang berkaitan dengan syukur, namun hanya orang-orang yang benar-benar dapat menginterpretasikan teori tersebut dalam sikap kesehariannya memandang dan menghadapi suatu masalah lah yang dapat dikatakan berhasil mengaplikasikan syukur tersebut. Tidak hanya sebatas bersyukur atas nikmat yang terlahir dari unsur materil, tetapi juga dapat bersyukur atas musibah maupun masalah kehidupannya, sehingga ia benar-benar dapat memahami bahwa Allah masih mencintai dan selalu melindunginya. Dalam wujud syukur yang ia tunjukkan bukan sebagai bentuk pengharapan terhadap nilai materil yang berlebih, tetapi ia lebih memaknainya sebagai bagian dari pengalaman dan penglihatan terhadap karunia Allah yang sungguh tiada terukur.
Selain itu terdapat definisi lain yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim yang mengatakan bahwa syukur adalah mengakui dengan segenap jiwa, raga dan perasaan atas nikmat Allah dan memperlakukannya dengan suka cita. Dari definisi tersebut dapat dikategorikan bahwa seseorang akan dianggap bersyukur apabila memenuhi tiga syarat, yakni (1) Sadar dengan sepenuh hati dan yakin bahwa nikmat itu diberikan oleh Allah SWT. (2) Merasakan dan menikmati apa yang didapat, tidak boleh mencela. (3) Memperlakukan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah, untuk kebaikan. Di dalam nafas setiap orang hamba, terdapat nikmat Allah yang senantiasa baru. Karena itu, dia harus melazimkan sikap syukur kepada-Nya. Syukur yang paling rendah yang dapat dilakukan oleh seorang hamba yang beriman adalah memandang kenikmatan itu sebagai pemberian dari-Nya, ridha terhadap segala apa yang diberi-Nya, dan tidak sekali pun mencoba untuk mengingkari segala karunia-Nya. Syukur yang sempurna ada di dalam hal pengakuan dengan ungkapan batin, bahwa segenap makhluk adalah lemah untuk mensyukuri nikmat yang paling kecil sekalipun, walaupun untuk itu mereka mencurahkan segenap kesungguhannya. Dengan kategori tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa pengukuran kecil terhadap diri kita sendiri telah mampu dilakukan, meskipun ukuran sebenarnya hanyalah orang lain yang dapat menilainya. Sebagai hamba yang beriman, tentunya kategori syukur tidak hanya dimaknai sebagai ukuran, melainkan untuk pondasi membangun keimanan yang menjadi implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam klasifikasinya, syukur pun terbagi atas beberapa kategori, yaitu:
a. Syukur dengan hati, yakni mensyukuri segala nikmat atas pengakuan dasar hati hingga melahirkan kepuasan batin atas anugerah yang diberikan.
b. Syukur dengan lidah, yakni bersyukur atas nikmat dengan memuji melalui pengucapan rasa syukur yang terlontar dari lidah seorang hamba-Nya.
c. Syukur dengan perbuatan, yakni sikap seseorang yang mensyukuri nikmat Allah dengan mengaplikasikannya ke dalam perbuatan sehari-hari dengan niat agar dapat memelihara dengan baik anugerah yang telah Allah berikan padanya.
2. Sabar
Menurut Syeikh Abdul Qadir Isa dalam bukunya yang berjudul Cetak biru tasawuf: Spiritualitas Ideal dalam Islam, para ulama mendefinisikan kata sabar dengan sangat beragam. Namun definisi yang paling memadai adalah definisi yang dikemukakan oleh Dzun al-Nun al-Mishry sebagai berikut.
“Bahwa sabar adalah menghindari pelanggaran-pelanggaran, bersikap tenang ketika ditimpa cobaan, dan menunjukkan kecukupan tatkala tertimpa kemiskinan tentang materi hidup. Dalam klasifikasi lain, para ulama juga menyebutkan bahwa sabar itu mempunyai pembagian yang sangat beragam, dan semuanya kembali bertemu dalam tiga macam berikut: (1) sabar dalam ketaatan ; (2) Sabar dari maksiat ; (3) sabar dalam kemalangan yang menimpa .
Dengan ini kita jelas mengetahui bahwa sabar tidak hanya tercantum dalam pengertian menahan kesedihan terhadap musibah yang menimpa, tetapi merupakan bagian yang dapat dilakukan pula dalam hal beribadah dan dari kesenangan yang bersifat maksiat.
Sedangkan menurut Saifulloh Al Aziz Senali dalam bukunya yang berjudul Risalah memahami ilmu Tashawwuf, menerangkan bahwa menurut Ibnu Qudamah Al-Muqaddasi, sikap sabar itu hanya terdapat pada manusia, tidak terdapat pada binatang maupun malaikat. Sabar dibagi menjadi dua, yakni sabar yang berkaitan dengan tubuh seperti dalam menanggung penderitaan badan, dan sabar dalam melaksanakan ibadah yang dirasa sangat berat.

Dalam pendefinisian ini, jelas tergambar bahwa wujud sabar yang sebenarnya adalah dari apa yang terlihat dan dari apa yang dapat diperbuat oleh orang yang bersangkutan yang erat kaitannya dalam menahan diri atas segala cobaan dan marabahaya yang menimpanya. Sabar merupakan bagian dari keimanan seseorang, yang merupakan sumber kebahagiaan seorang manusia pula. Maka sudah jelas penulis dapat menyimpulkan bahwa inti dari kokohnya sebuah ketakwaan adalah kuatnya pondasi yang salah satunya terbangun atas dari kesabaran.
Membangun mahligai kehidupan tidak lah semudah apa yang dibayangkan. Hati ini jelas selalu disibukkan dengan berbagai macam pemikiran yang lazimnya menggelisahkan batin. Maka dari itu untuk melepaskan segala kegelisahan tersebut, diperlukanlah senjata ampuh yang dinamakan dengan sabar. Sabar inilah yang mengekang segala nafsu terhadap sesuatu yang menggelisahkan atau semua nikmat yang seketika meninggalkannya. Sabar juga merupakan sifat terpuji dan Allah juga amat menganjurkannya dalam firman-Nya Q.S An-Nahl ayat 127, yang berbunyi sebagai berikut.


Artinya: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Anas bin Malik membagi sabar menjadi dua bagian, yaitu sabar yang berkaitan dengan ikhtiar hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan ikhtiar. Sabar yang berkaitan dengan ikhtiar, terbagi menjadi dua, yakni sabar terhadap apa yang perintahkan oleh Allah dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya. Sedangkan sabar yang tidak berkaitan dengan ikhtiar, yakni sabar dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan yang dialami. Pada dasarnya keadaan di dunia ini terbagi menjadi dua, yakni keadaan yang sesuai dengan keinginan kita dan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, pada keadaan kedua inilah tempat bagi kita untuk bersabar. Di sikapi secara negatif, sabar berdefinisi tahan menderita; sedangkan dari positifnya, sabar adalah berhati-hati dan selektif dalam bertindak. Sabar bukan dikategorikan sebagai keadaan dimana seseorang menyerah tanpa syarat dengan keadaan yang ia hadapi, melainkan berusaha dengan hati yang tetap berikhtiar kepada Allah.
3. Istiqamah
Kata Istiqamah secara bahasa berarti tegak dan lurus. Sedangkan secara istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :
a. Abu Bakar Ash Shiddiq: ‘Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga’
b. Umar bin Khattab: ‘Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang’
c. Utsman bin ‘Affan: ‘Istiqamah artinya adalah ikhlas’
d. Ali bin Abi Thalib: ‘Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban’
e. Ibnu Abbas: ‘Istiqamah mengandung 3 macam arti : istiqamah dengan lisan yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat, istiqamah dengan hati artinya terus melakukan niat yang jujur dan istiqamah dengan jiwa senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus.
f. Ar Raaghib : ‘Tetap berada di atas jalan yang lurus’
g. Imam An Nawawi : ‘Tetap dalam ketaatan’.
Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa istiqamah mengandung pengertian tetap memegang ketaatan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Istiqamah memiliki arti berkesinambungan, tidak berubah-ubah, atau tidak terputus-putus. Istiqamah dilakukan secara terus menerus oleh seseorang sebagai latihan terhadap diri untuk mempertajam mata hati, dengan meyakini bahwa istiqamah inilah yang menyebabkan kebaikan menjadi sempurna.


Artinya: “(92). Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai.”

Seperti diterangkan dalam Q.S An-Nahl ayat 92 di atas, jika seseorang telah menjajaki latihan dan menemukan jalan kebaikan itu, maka hendaknya dipertahankan agar tidak sampai putus ataupun berkurang. Siapa pun yang menapaki istiqamah tidak untuk sifat kebaikan, maka dia tidak akan bisa memperbaiki dan meningkat dari satu maqam ke maqam berikutnya. Ia tidak akan dapat mempertegas perilakunya mengarah kepada kepastian kebaikan, untuk itulah istiqamah menjadi salah satu syarat utama seseorang yang menempuh perjalanan sufi.
Di dalam peribahasa sering disebutkan berani berkata benar, takut karena salah. Betapa akhlak yang baik menimbulkan ketenangan batin, yang dari situ dapat melahirkan kebenaran. Rasulullah telah memberikan contoh betapa beraninya berjuang karena beliau berjalan di atas prinsip-prinsip kebenaran. Benar ialah memberitahukan sesuatu yang sesuai dengan apa-apa yang terjadi, artinya sesuai dengan kenyataan. Maka seseorang yang telah beristiqamah di jalan Allah, ia berani menetapkan pendiriannya dalam menegakkan apa yang ia yakini benar sesuai syari’at Islam. sikap istiqamah merupakan bagian penting dari akhlak seseorang, yang mana melalui sikap ini dapat di nilai seseorang itu kuat pendirian atau tidak, terlebih lagi dalam hal mengatakan segala sesuatu yang benar menurut Islam. Dalam tingkatan maqamat, istiqamah juga merupakan komponen penting karena ketika seseorang ingin menaikkan maqamnya ia harus teguh pendirian dan tidak akan pernah berputus-putus dalam menentukan langkah.
Beberapa pentingnya istiqamah juga Allah terangkan dalam firman-Nya pada Q.S. Luqman ayat 102 dan Q.S. Fusshilat ayat 30 yang berbunyi sebagai berikut.


Artinya: “(102). Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”




Artinya: “(30). Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Iman yang ada di dalam diri manusia senantiasa diuji ketahanannya setiap saat. Dengan ujian seperti inilah diseleksi dan disaring mana orang yang betul-betul beriman dari hatinya dan mana yang memang hanya mengaku beriman di mulut saja. Cobaan yang datang menimpa manusia sebagai bagian dari ujian keimanan itu berasal pada dua sumber, yakni dari luar diri manusia dan dari dalam diri manusia itu sendiri. Kebakaran, air bah, angin topan yang menerbangkan puluhan rumah, dan yang lainnya merupakan bagian dari ujian keimanan yang berasal dari luar diri manusia. Sedangkan amarah, nafsu, syahwat dan lainnya merupakan bagian ujian keimanan yang datang dari dalam diri manusia itu sendiri. Bagaimana cara manusia itu menghadapi dan bertahan dalam menghadapi ini agar tetap yakin bahwa segalanya adalah datang dari Allah dan kembali pada Allah pula serta semakin mempererat keimanan, Istiqamah lah yang berperan besar dalam hal ini.

Artinya: “(6). Tunjukilah kami jalan yang lurus, (Jalan orang yang beristiqamah).”

Dalam menegakkan pendirian yang kuat dan tegas itu, manusia terbagi menjadi tiga, yakni pertama, yang terlalu jauh ke atas, berkepala batu. Kedua, terlalu jauh ke bawah, tak berpendirian. Ketiga, yang ditengah-tengah, inilah yang dinamakan dengan istiqamah. Terlalu ke atas tercela, terlalu ke bawah juga tidak terpuji. Pendirian yang terlalu keras, tidak mau mendengar nasihat kawan, tidak mau menerima kebenaran perkataan orang lain, mengaku hanya dirinya lah yang benar, egois atau keras kepala. Ini adalah penyakit yang membahayakan, dan jalan tengah dari hal ini adalah istiqamah. Perkataan “Mustaqim” dalam ayat di atas berasal dari kata “Istiqamah”. Mustaqim adalah isim fa’il dari istiqamah, artinya orang yang beristiqamah. Agar teguh pendirian dalam menghadapi segala hambatan keimanan tersebut, Allah telah memberikan kepada manusia suatu kekuatan besar yang kita istilahkan dengan kekuatan insaniyah. Kekuatan insaniyah ini merupakan suatu daya yang ditumbuhkan Tuhan didalam pribadi seorang manusia. Kekuatan ini berupa kekuatan berfikir dan kekuatan merasa. Kekuatan berfikir inilah yang kemudian menjelmakan ilmu pengetahuan, dari ilmu pengetahuan tersebut manusia dapat menguasai alam semesta. Sedangkan kekuatan merasa pusatnya berada di hati, sebagai penyeimbang dari kekuatan berfikir yang berpusat di kepala.
Perhatikanlah semut yang merangkak, beratur dengan penuh tertib menuju ke tempat yang manis dalam rumah kita. Tidak cukup dengan semburan beracun, malah acap pula kita bersihkan dengan sabun berulang kali, tapi mereka tetap datang tanpa putus asa. Perhatikanlah semut membawa makanan yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Istiqamah menuju sarang, bukan untuk diri sendiri, tetapi merealisasikan sikap memberi. Perhatikanlah semut yang tidak mempunyai akal, tetapi fikiran dan tindakan mereka sentiasa dipacu dengan sebuah ungkapan bernama "istiqamah". Imam Muslim meriwayatkan dalam Sahihnya, sabda Rasulullah SAW: Daripada Sufyan bin Abdillah r.a pernah bertanya Rasulullah s.a.w, "Wahai Rasulullah, beritahuku dalam Islam ini satu perkataan yang aku tidak perlu bertanya kepada sesiapa selain engkau." Jawab Nabi s.a.w, "Katakan, aku beriman dengan Allah, kemudian kamu beristiqamahlah."
Dari wacana ini penulis dapat menyimpulkan bahwa istiqamah merupakan salah satu wadah untuk membangun keteguhan pendirian akan iman terhadap Allah SWT. Dalam berbagai perannya, istiqamah berperan untuk menjadi jalan tengah akan watak manusia yang terkadang menjadi sangat angkuh dan terkadang juga sangat tak berpendirian. Dalam beberapa firman Allah yang telah disebutkan di atas, menunjukkan bahwa istiqamah merupakan salah satu pilar penting yang harus dimiliki setiap insan dalam memadukan segala kekuatan baik yang berasal dari fikiran maupun hati manusia itu sendiri.

B. Peran Penting Syukur, Sabar, dan Istiqamah dalam Kehidupan
Kekuatan hukum akhlak akan semakin meningkat dengan meningkatnya daya pikir manusia. Ketika manusia dilahirkan, pada saat itu ia telah memiliki embrio hukum akhlak yang lahir sesuai dengan keturunan. Kemudian embrio ini tumbuh di dalam lingkungan keluarganya, yang mana ia akan belajar didalamnya tentang konsep baik dan buruk, diajarkan dengan sendirinya akhlak yang baik dan yang buruk dari pejalanan tumbuhnya dalam lingkungan tersebut. Pada dasarnya pribadi seseorang terbentuk dalam lingkungan tempat ia dibesarkan dan tercermin dalam setiap tingkah laku yang ia tampakkan di depan orang lain. Untuk ini, kita jelas mengerti bahwa teori mengenai syukur, sabar, dan istiqamah selalu kita dapatkan baik di sekolah, universitas, maupun di tempat yang bersangkutan. Tetapi pengaplikasian nyata dari penanaman rasa tersebut adalah bergantung pada bagaimana seseorang itu menjalani kebiasaan hidupnya, bagaimana pola pikirnya terbentuk, hingga ia sendiri yang menjadi peniru ulung untuk setiap aktifitas yang ia contoh.
Dalam menjalani kehidupan yang fana ini, manusia jelas mengalami berbagai macam polemik yang sejatinya akan membuat suasana iman menjadi naik atau pun turun. Ini pula yang menggambarkan bahwa ujian dan musibah yang menimpa merupakan bagian dari penguatan stimulus bagi seorang insan yang beriman. Untuk itu, dalam menghadapinya manusia tersebut memerlukan suntikan pelindung yang bernama syukur, sabar, dan istiqamah. Syukur dalam hal ini berperan sesuai dengan kondisinya. Ia menjadi suntikan bagi seseorang agar selalu sadar bahwa segala apa yang diberikan di dunia ini merupakan anugerah dari Allah SWT dan sudah barang tentu menjadi salah satu bukti nyata bagi orang-orang yang yakin dan beriman bahwa Allah itu ada. Sudah selayaknya rasa syukur menjadi pondasi bagi seseorang untuk menata keimanannya agar tidak muncul sikap sombong dan merasa segalanya sudah menjadi kepuasan yang wajib ia dapatkan di dunia ini.
Kemudian tidak luput pula peran rasa sabar yang dalam menghadapi ujian dalam bentuk musibah, ia tidak lepas dari selalu mengingat bahwa semua yang berasal dari Allah maka kelak akan kembali kepada Allah. Maka bagi orang-orang yang telah berhasil menanamkan sikap sabar dalam dirinya akan dengan pasrah menerima segala ketentuan bahwa ia harus kehilangan salah satu dari apa yang ia anggap sebagai nikmat dari Allah. Selain itu, adapula peran istiqamah yang mana pondasi inilah yang memperkuat keyakinan bahwa iman kepada Allah dan segala apa yang ia jalani di jalan Allah adalah benar. Selalu teguh pendirian dan tidak ada sedikit pun dalam kehidupannya terlihat ragu dan berniat untuk berpindah-pindah keyakinan.

C. Perpaduan Peran Syukur, Sabar, dan Istiqamah dalam Kehidupan
Selama jangka hidup yang pendek ini, manusia dengan cermat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi, baik pada dirinya maupun pada dunia sekitarnya. Nampaknya tiada sesuatu yang tetap, segalanya silih berganti. Gerak kehidupan seakan tak pernah berhenti antara kedukaan dan kegembiraan, kemudahan dan kesulitan, kemurahan dan kemurkaan, kecintaan dan kebencian. Orang-orang yang di karunai akal sehat dan cemat atau mereka yang memiliki kepekaan spiritual, menyadari dan memahami perubahan yang terjadi ada keterpautan dan saling ketergantungannya satu sama lain.
Sebagaimana penjabaran tentang perannya, sudah dapat penulis simpulkan bahwa perpaduan peran di antara ketiganya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat lepas satu sama lain. Ketika seseorang diberikan nikmat oleh Allah SWT berupa kekayaan, kecantikan, kesempurnaan, dan segala sesuatu yang membahagiakan maka ia yang memang beriman kepada Allah akan mengucapkan syukur dan selalu berterima kasih atas semua anugerah yang ia dapatkan. Dalam implementasinya, orang yang benar-benar bersyukur akan memanfaatkan nikmat yang diberikan oleh Allah sebagai ladang untuk menuai kebaikan dunia maupun akhirat. Ia senantiasa menaburkan segala berkah dan membaginya pula pada yang memang membutuhkan. Hatinya menjadi semakin tawadu’ dan memahami bahwa Allah adalah yang maha kaya dan maha pemilik segalanya.
Ketika keyakinan itu telah tertanam dalam hatinya, maka saat dengan sekejap Allah berikan ia sebuah musibah baik berupa kemiskinan maupun penyakit yang melanda dirinya, maka tak ada keluhan selain yang terucap di lidahnya adalah rasa syukur karena merasa Allah masih sayang dan memperhatikan dirinya. Dari itulah kemudian muncul rasa sabar yang luar biasa yang mana ia yakin bahwa semuanya hanya titipan dan sudah menjadi hak Allah jika sewaktu-waktu akan Ia ambil. Sabar inilah yang menjadi tameng pertahanan seorang hamba dalam menghadapi rintangan dan cobaan dalam menjalani kehidupan. Ia tidak akan dengan mudah gugur di medan peperangan, melainkan dengan kesabarannya itulah ia dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dari tameng kesabaran, kemudian muncul sikap istiqamah. Sikap yang menunjukkan bahwa seseorang tidak akan gentar dan akan teguh pendirian meskipun banyak hal yang siap mengguncangkan keimanannya. Sikap istiqamah ini melahirkan segala pemikiran positif dalam dirinya yang dari makna sabar ia yakin bahwa semua hanya titipan dan dengan istiqamahnya ia akan tetap teguh pendiriannya meskipun segala nikmat yang telah ia dapatkan seketika di ambil oleh Allah SWT.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari serangkaian penjelasan tentang akhlak mahmudah terkait dengan syukur, sabar, dan istiqamah, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan, diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Syukur adalah berterimakasih atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah dengan cara memanfaatkan segala nikmat tersebut dalam menuai dunia dan akhirat. Sabar adalah meyakini bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah titipan dari-Nya dan kelak juga akan kembali kepadanya dengan cara mengekang segala nafsu yang berlebihan hadir dalam dirinya dan lainnya. Istiqamah merupakan keteguhan hati akan pendirian terhadap sesuatu yang dalam hal ini adalah iman kepada Allah SWT.
2. Syukur berperan menjadi stimulus dalam menyadarkan segala pikiran dan hati bahwa semua yang ia dapatkan adalah dari Allah SWT. sabar berperan menjadi tameng pertahanan dalam menghadapi segala cobaan yang diberikan Allah disamping nikmat yang terus ia dapatkan. Istiqamah berperan memberikan pelindung yang kokoh demi teguhnya iman akan segala cobaan yang ditimpakan guna menumbuhkan rasa sabar tersebut.
3. Perpaduan ketiga akhlak ini dapat penulis katakan bahwa syukur merupakan wujud implementasi positif terhadap nikmat Allah, sabar merupakan wujud pengukuhan diri terhadap cobaan yan hadir pada dirinya, dan pada akhirnya istiqamah merupakan penengah yang menjadi penguat dan peneguh keimanan akan Allah SWT.
B. Saran
Cukup sekian apa yang dapat kami sajikan kiranya ada kekurangan mohon kritik dan sarannya dalam bentuk diskusi yang kemudian dapat kami jadikan sebagai rujukan pelengkap dalam makalah revisi yang akan dibuat kemudian jika diperlukan.


DAFTAR PUSTAKA

A. Telaah Kepustakaan

Al-Ghazali, Imam, Majmu’ah Rasa’il al-Imam Al-Ghazali jilid 2-6, Terjemahan Irwan Kurniawan, Bandung: Pustaka Hidayah, 2010.

Al-Ghazali, Imam, Mempertajam Mata Bathin dan indera keenam, t.tp: Mitrapress, 2007.

Ali, Yunasril, Pilar-Pilar Tasawuf, Jakarta Pusat: Kalam Mulia, April 2002.

Aman, Saifuddin, Delapan Pesan Luqman Al-Hakim: Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti, Kisah Inspiratif Teladan, dan Motivasi Meraih Masa Depan, Jakarta Selatan: Al Mawardi Prima, Juli 2008.

Amin, Ahmad, Kitab Akhlak; Wasiat Terakhir Gus Dur, Jakarta Selatan: Quntum Media, April 2012.

Haeri, Syekh Fadhalalla Al Hikam: Rampai Hikmah ‘Ibn ‘Atha’illah, Terjemahan Lisma Dyawati Fuaida, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, November 2004.

Isa, Syeikh Abdul Qadir, Cetak Biru Tasawuf: Spiritualitas Ideal dalam Islam, Cet. I, Ciputat: Ciputat Press, Maret 2007.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2009.

Rahman, Fadli, Akhlak Tasawuf: Pengantar ke Dunia Esoteris Islam, Cet.I, Malang: In-TRANS Publishing, November 2007.

Senali, Saifulloh Al Aziz, Risalah memahami ilmu Tashawwuf, Surabaya: Terbit Terang, t.tt.

Siregar, H.A. Rivay Tasawuf; Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Juni 2002.

Umary, Barmawie, Materia Akhlak, Solo: Ramadhani, t.tt.

B. Telusur Internet

Http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur1.html, di akses pada tanggal 25 September 2013, pukul 21:18 WIB.

Http://seputarmuslimah.blogspot.com/2009/08/Istiqamah.html, di akses pada tanggal 08 Oktober 2013, pukul 13.38 WIB.

Http://amizakhusyri.blogspot.com/2011/05/sebuah-ungkapan-bernama-istiqamah.html, di akses pada tanggal 07 Oktober 2013, pukul 20.16 WIB


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga makalah dengan judul “Akhlak Mahmudah: Syukur, Sabar, dan Istiqamah” ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, sebagai pemenuhan salah satu tugas Akhlak Tasawuf.
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi penulisan, susunan kata, maupun isi materi. Dengan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini, serta sebagai jembatan ilmu yang berujung pada intelektualitas. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR i
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ii
DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 2
D. Kegunaan Penulisan 2
E. Metode Penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Syukur, Sabar, dan Istiqamah 3
B. Peran Penting Syukur, Sabar, dan Istiqamah dalam Kehidupan 13
C. Perpaduan Peran Syukur, Sabar, dan Istiqamah dalam Kehidupan 14

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 17
B. Kritik dan Saran 17

DAFTAR PUSTAKA


0 komentar:

 

Catatan Cerdas Mahasiswa Template by Ipietoon Cute Blog Design